Page 101 - BSE Biologi SMA/MA Kelas XI
P. 101
pita
miofibril
daerah H
garis Z garis Z
garis M
miofilamen tipis
(aktin) miofilamen tebal
(miosin)
Gambar 4.24 Aksi aktin dan miosin.
Teori di atas dapat dijelaskan sebagai berikut. Pada saat terjadi rangsangan
yang diterima asetilkolin, rangsangan itu menyebabkan aktomiosin mengerut
(berkontraksi). Kontraksi yang terjadi membutuhkan energi.
Pada saat kontraksi terjadi, filamen aktin akan berjalan di antara miosin ke dalam
zona H (zona H, yaitu bagian terang di antara dua pita gelap). Dengan keadaan yang
demikian itu, terjadi pemendekan serabut otot. Namun demikian, ada serabut yang
tetap panjang, yaitu garis M (anisotrop/pita gelap), sedangkan garis Z (isotrop/pita
terang) dan daerah H bertambah pendek waktu terjadi kontraksi.
Bagian ujung miosin dapat berkaitan dengan ATP dan menghidrolisis ATP tersebut
menjadi ADP. Energi dilepaskan dengan cara mencegah pemindahan ATP ke miosin
yang diubah bentuk menjadi konfigurasi energi tinggi. Miosin yang berenergi tinggi
tersebut kemudian berikatan dengan aktin membentuk jembatan silang. Selanjutnya,
energi yang tersimpan pada miosin akan dilepaskan sehingga ujung miosin berelaksasi
menghasilkan energi yang rendah. Relaksasi yang terjadi akan mengubah sudut ikatan
ujung miosin menjadi miosin ekor. Ikatan yang terjadi antara miosin berenergi rendah
dan aktin akan terpecah, pada saat molekul baru ATP bergabung dengan ujung miosin.
Siklus tersebut akan terus berulang.
4. Timbulnya Energi untuk Gerak Otot
Adenosin Tri Fosfat yang dikenal sebagai ATP, merupakan penghasil energi utama
untuk berkontraksinya otot. ATP dihasilkan dari proses oksidasi (pembakaran)
karbohidrat dan lemak. Terjadinya kontraksi otot sebagai akibat adanya interaksi
antara protein otot aktin dan miosin. Perhatikanlah diagram berikut!
ATP-ase
Aktin + Miosin Aktomiosin
96 Bab 4 Sistem Gerak

