Page 206 - dasar-dasar Manajemen Pendidikan Islam
P. 206

Dasar-Dasar Manajemen Pendidikan Islam



            risan dan seleksi budaya. Hal ini ditandai dengan makin ter-
            perosoknya kearifan generasi dalam mewarisi nilai-nilai mulia
            peradaban masa lampau. Bukti konservatisme pendidikan
            formal benar-benar nyata di dalam alur perjalanan sejarah.
            Se perti  dikemukakan  oleh  Ash Hatwell (1995),  diperlukan
            waktu sekitar seratus tahun bagi teori dan ide ilmiah untuk
            dapat memengaruhi isi, proses, dan struktur persekolahan.
            Bersamaan dengan itu, perubahan wajah dunia terus berak-
            selerasi. Misalnya, pada abad ke-20 telah diproduksi konsep
            dan teori radikal tentang alam, realitas, dan epistemologi.
               Munculnya teori relativitas, mekanika kuantum, dan pe-
            nemuan ilmiah lainnya adalah contoh nyata revolusi di bi-
            dang keilmuan. Memang, evolusi perilaku sosial jauh lebih ce-
            pat dibandingkan dengan evolusi spesies-genetik nonrekayasa.
            Meski kita harus pula menerima realitas bahwa pendidikan
            formal belum menampakkan pergeseran fungsi progresifnya
            yang signifikan. Fungsi reproduksi atau fungsi progresif meru-
            juk pada eksistensi sekolah sebagai pembaru atau pengubah
            kondisi masyarakat kekinian ke sosok yang lebih maju. Selain
            itu, fungsi ini juga berperan sebagai wahana pengembangan,
            reproduksi, dan desiminasi ilmu pengetahuan dan teknologi.
            Para peneliti, penulis buku, pengamat, pendidik, guru, tutor,
            widyaiswara, pemakalah seminar, dan sejenisnya adalah orang
            yang banyak bergulat dengan pengkajian, penelitian, pene-
            laahan, dan desiminasi ilmu.
               Saat ini fungsi progresif sekolah sebagai lembaga pendidi-
            kan terus menampakkan sosoknya, meski belum menunjuk-
            kan capaian yang signifikan, setidaknya pada banyak dae rah
            dan jenis sekolah. Di daerah pedalaman misalnya, masih
            banyak sekolah yang sulit mempertahankan kondisinya pada
            taraf sekarang, apalagi mendongkrak mutu kinerjanya. Meski
            harus diakui pula, pada banyak tempat telah lahir sekolah-se-



        204
   201   202   203   204   205   206   207   208   209   210   211