Page 30 - dasar-dasar Manajemen Pendidikan Islam
P. 30
Dasar-Dasar Manajemen Pendidikan Islam
khalifah menegaskan bahwa memperbaiki dan meningkatkan
negeri yang berada dalam wilayah Islam lebih baik daripada
meluaskannya.
Pengelolaan sistem pendidikan pada masa Bani Umaiyyah
dilakukan secara terdesentralisasi, yakni pemerintah menye rah-
kan pengelolaan pendidikan kepada kebijakan gubernur. Pe-
merintah pusat hanya menetapkan kebijakan yang bersifat
umum, misalnya perlunya program arabisasi, maka di setiap
provinsi harus menyelenggarakan program ini.
Para lulusan pendidikan di zaman Bani Umaiyyah ter-
diri dari para tabi’in, yaitu mereka yang hidup dan berguru
kepada para sahabat Nabi Saw., atau generasi kedua setelah
sahabat. Hubungan mereka dengan Rasulullah Saw. terletak
pada hubungan misi, gagasan, cita-cita, dan semangat, bukan
hubungan persahabatan. Di antara para tabi’in tersebut, wa-
laupun tidak sempat berjumpa dan berguru dengan Nabi Mu-
hammad Saw. namun visi, misi, dan tujuan perjuangannya
tidak berbeda dengan Nabi Muhammad Saw.. Bahkan, di an-
tara para tabi’in tersebut ada yang masih memiliki keturunan
dengan Nabi Muhammad Saw..
Pada masa ini tidak diketahui secara pasti tentang jum-
lah lulusan, tetapi paling tidak dapat dikemukakan bebera-
pa orang yang lulus dan menjadi ahli pada masa ini, yaitu
Thuwas Bin Kaisan (ahli ibadah dan zuhud), Hasan Al-Bashri
(ahli fiqih dan tasawuf), Muhammad Bin Sirin (ahli fiqih dan
perawi Hadits), Imam Zuhri (ahli Hadits dan hafiz), Imam
Abu hanifah (Ahli fiqih), Abdurrahman Bin Amr Al-Auza’i
(ahli fiqih), Sufyan Al-Tsauri (ahli Hadits, zuhud, dan ahli
ibadah), Malik Bin Anas (ahli Hadits dan fiqih), Waqi’ bin
Jarrah (ahli fiqih), Yahya bin Said Al-Qaththani (ahli Hadits),
Muhammad bin Idris Syafi’i (ahli fiqih), Yahya bin Ma’in (ahli
Hadits), Ahmad bin Hambal (ahli Hadits dan fiqih).
28

