Page 205 - How to Develop Corporate In Indonesia Especially in Region
P. 205
hasil dari sintesis melalui proses dialektika dari berbagai bidang ilmu diatas
muncul pada era generasi pertama ini.
Menurut Denis dan McConnel (2003) perkembangan generasi kedua
corporate governance ditandai dengan hasil karya La-Porta dan koleganya
pada tahun 1998. Berbeda dengan Berle dan Means (1932) menurut LLSV
(1998, 1999) penerapan corporate governance di suatu negara dipengaruhi
oleh perangkat hukum yang ada pada negara tersebut, bagaimana kondisi
perangkat hukum di negara tersebut dalam upayanya melindungi kepentingan
pihak-pihak yang terkait dengan perusahaan, khususnya pemilik minoritas.
Pada tahap ini perkembangan corporate governance semakin meluas dan
kompleks. Permasalahan beralih dari konflik kepentingan masing-masing
stakeholders pada konsentrasi kepemilikan saham yaitu pemilik saham
mayoritas dan minoritas. Perlindungan terhadap pemilik saham minoritas atas
dominasi pemilik saham mayoritas juga dijadikan permasalahan. Menurut
LLSV, negara lain selain AS dan Inggris, kepemilikan sahamnya sangat
terkonsentrasi. Hal ini mengakibatkan terjadi konflik kepentingan antara
pemilik mayoritas yang kuat dan pemilik minoritas yang lemah.
Menurut Boatright (2000) dalam Emmy Yuhassarie dan Tri Harnowo
pusat perdebatan adalah terjadinya konflik kepentingan antara pemilik
mayoritas dan minoritas, namun terdapat juga beberapa perbuatan yang
mengandung konflik kepentingan, yaitu :
1) Penilaian yang bias
2) Melakukan kompetisi secara langsung
3) Menyalahgunakan jabatan
4) Mengambil manfaat dengan membocorkan rahasia usaha (Emirzon, 2007
LLSV (1999,2000) juga berpendapat, konflik yang semakin tajam terjadi
karena sistem hukum yang tidak kondusif dan belum berpihak pada
kepentingan umum. Hal ini berpotensi merusak sistem perekonomian
negara GCG mencapai puncak perkembangannya pada awal dekade tahun
2000-an, pada saat itu beberapa perusahaan raksasa dunia bangkrut.
Kebangkrutan perusahaan-perusahaan dunia tersebut adalah karena
lemah dan kurangnya penerapan GCG pada perusahaan-perusahaan
tersebut. Semenjak kebangkrutan perusahaan-perusahaan raksasa dunia
tersebut, semakin banyak kalangan yang mulai menyadari pentingnya
penerapan GCG.
181

