Page 246 - How to Develop Corporate In Indonesia Especially in Region
P. 246
norma agama serta semakin menjauhkan diri dari perilaku yang dapat
menggelincirkan aqidah dan moralitas seseorang. Namun pada kenyataannya
hal tersebut yang terjadi. Sebagian masyarakat terperangkap pada keyakinan
yang keliru dan kehilangan ruh dari ajaran agama yang dianutnya. Dalam
dunia bisnis hal ini tercermin dari gejala menghalalkan segala cara demi
mencapai tujuan. Etika bersaing tidak lagi dijalankan secara elegan,
profesional, dan sportif sehingga budaya menerabas dan saling memangsa
tumbuh subur.
Ashmos dan Duchon (2000) menyampaikan bahwa dalam model
manajemen yang birokratis dan ilmiah, rasionalitas dan legalitas telah
memberikan batasan-batasan bagi manusia dalam berperilaku di tempat kerja.
Di bawah kekuasaan sistem organisasi yang demikian, manajer dan seluruh
karyawan diharapkan memenuhi segala tuntutan kerja tanpa pelibatan diri
yang sesungguhnya yakni dengan menampilkan keunggulan rasional secara
global dan kesadaran ilmiah. Hal ini mengakibatkan dimensi spiritual manusia
yang berhubungan dengan penemuan dan pengekspresian makna dan tujuan
hidup dalam hubungannya dengan orang lain dan segala sesuatu yang lebih
luas dari sekedar orientasi terhadap diri sendiri tidak dapat hadir (apalagi
dipraktikkan) di lingkungan kerja.
Sementara itu Fox dalam Ashmos dan Duchon (2000) menyampaikan
bahwa manusia memiliki dua sisi kehidupan yakni inner dan outer life, dan
memupuk inner life akan mampu mendorong outer life menjadi lebih
bermakna dan produktif. Oleh karena itu pemisahan praktik nilai-nilai
spiritualitas dalam lingkungan kerja atau dunia bisnis merupakan langkah
manajemen yang mengingkari esensi dasar kebutuhan manusia.
1.6.3 Mengelola Perusahaan secara Baik
Diketahui, semenjak lahirnya UU Pasar Modal dan UU Perseroan
Terbatas, pada tahun 1995, para pelaku Bisnis di Indonesia berusahaa keras
untuk melaksanakan tata kelola perusahaan yang baik (GCG). Prinsip yang
menjadi landasan praktik GCG adalah komitmen, hak, perlakuan setara, peran
stakeholder, transparansi dan disclosure, tanggung jawab komisaris dan
direktur. Ghani (2005) menyampaikan lima prinsip GCG, pertama, transparan
222

