Page 250 - How to Develop Corporate In Indonesia Especially in Region
P. 250
Mitroff dan Denton (1999) menyimpulkan bahwa tidak ada organisasi
yang dapat bertahan hidup dalam jangka panjang dengan tanpa menerapkan
nilai-nilai spiritualitas yang menjadi rohnya. Yang harus dilakukan adalah
menemukan cara mengelola nilai-nilai spiritualitas tanpa memisahkannya dari
elemen-elemen lain dalam manajemen perusahaan. kita sudah terlalu jauh
memisahkan nilai-nilai spiritualitas ini dari elemen-elemen kunci perusahaan
dan sekarang saatnya mengintegrasikannya.
1.6.5 Peran Pemimpin Perusahaan
Penanaman nilai-nilai spiritualitas dalam sebuah perusahaan (daerah)
pada hakekatnya mencakup upaya membangun budaya perusahaan atau
bahkan mengubah budaya. Oleh karena itu sering diperlukan langkah-langkah
perubahan yang mendasar. Budaya perusahaan yang kuat, relevan dan
profesional dibutuhkan agar para perilaku anggotanya terarah pada suatu cara
untuk mencapai sasaran perusahaan yang pada akhirnya akan meningkatkan
kinerja perusahaan, oleh sebab itu budaya perusahaan yang tidak (lagi) relevan
dengan tuntutan perubahan perlu diubah. Namun demikian, merubah budaya
bukan masalah sederhana. Karyawan dengan berbagai karakteristik nilai yang
sudah melekat dalam diri masing-masing tidak akan mudah menerima nilai-
nilai baru yang tidak sesuai atau sejalan dengan apa yang sudah diyakini dan
menjadi kebiasaannya.
Peran pemimpin dalam proses penanaman nilai-nilai spiritualitas sangat
penting. Aspek patronase masih cukup berperan dalam proses penanaman nilai
baru. Agustian (2005) menyampaikan bahwa terdapat lima tingkat pemimpin
yakni pemimpin yang dicintai, pemimpin yang dipercaya, pembimbing,
pemimpin yang berkepribadian dan pemimpin yang abadi. Pemimpin pada
tingkat kelima inilah yang dibutuhkan untuk melakukan share value.
Pemimpin tingkat kelima adalah pemimpin yang dapat memimpin dengan
suara hatinya dan diikuti oleh suara hati pengikutnya, ia bukan sekedar
pemimpin manusia tetapi pemimpin segenap hati manusia.
Silverweig dan Allen (1976) dalam Budiharjo (2004) menyatakan bahwa
terdapat empat tahapan model sistem normatif untuk mengubah budaya
perusahaan yakni : pertama, mengidentifikasi budaya perusahaan untuk
226

