Page 245 - How to Develop Corporate In Indonesia Especially in Region
P. 245

keagamaan. Atas dasar hal inilah oleh karenanya bukanlah tanpa alasan bagi
               pihak  yang  tidak  setuju  penggunaan  nilai-nilai  spiritualitas  dalam  bisnis,
               karena memang kedua nilai tersebut tidak selayaknya didudukan dalam satu
               tataran dalam proses bisnis. Akan tetapi dengan perkembangan yang terjadi
               baik internal maupun eksternal maka penerapan nilai-nilai spiritualitas telah
               semakin menjadi kebutuhan.

               1.6.2 Kesadaran Karyawan

                    Perkembangan  internal  yang  menggejala  yakni  timbulnya  pergeseran
               paradigman  manusia  (karyawan)  yang  semakin  mengakomodasi  dan
               tumbuhnya  keinginan  yang  semakin  besar  untuk  lebih  memaknai  hidup,
               menjalankan nilai-nilai spiritualitas bahkan menjalankan ajaran-ajaran agama
               yang  dianutnya  dalam  keseluruhan  aspek  kehidupannya  termasuk  pula  di
               tempat kerja. Mitroff dan Denton (1999) melalui teknik wawancara terhadap
               40 orang eksekutif senior di AS, berhasil mengidentifikasi arti penting dan
               tujuan karyawan dalam  bekerja.  Hasil penelitiannya menunjukkan terdapat
               tujuh kategori besar tentang arti penting dan tujuan kerja  yakni (rangking)
               pertama,  kemampuan  merealisasi  potensi  yang  dimiliki  sebagai  manusia,
               kedua, ingin menjadi bagian organisasi yang baik dan etnis; ketiga, tertantang
               dengan pekerjaan; keempat, mencari uang; kelima, menjadi bagian yang baik
               dalam pelayanan terhadap manusia;  keenam,  melayani  generasi  berikutnya
               dan ketujuh, pelayanan terhadap komunitas terdekat. Hasil penelitian tersebut
               sangat menarik karena ternyata aspek nilai kerja secara ekonomis (mencari
               uang) yang dianut oleh karyawan tidaklah menduduki peringkat pertama tetapi
               justru  menduduki  rangking  empat.  Bahkan  keenam  nilai  yang  lain  juga
               diwarnai  dengan  perwujudan  nilai-nilai  spiritualitas  yang  dianut  oleh
               karyawan.

                    Namun  demikian  cerita  sukses  keberhasilan  penerapan  nilai-nilai
               spiritualitas  menjadi  sesuatu  yang  unik  dengan  kasus  di  Indonesia.  Ghani
               (2005) menyampaikan bahwa berdasarkan survey  LP3ES pada tahun 2003
               ditemukan sebuah paradoks pergeseran nilai sosial masyarakat. Masyarakat
               Indonesia mengalami peningkatan simbolik ritus peribadatannya. Kesalehan
               pribadi meningkat melalui tampilan fisik dalam ritual ibadah. Ironisnya di sisi
               lain  juga  terjadi  eskalasi  kecenderungan  pelanggaran  norma  agama  seperti
               terjadinya  KKN.  Apabila  logika  Linier  yang  digunakan  maka  semestinya
               dengan semakin taat beribadah, seseorang akan semakin patuh pada aturan dan



                                                   221
   240   241   242   243   244   245   246   247   248   249   250