Page 247 - How to Develop Corporate In Indonesia Especially in Region
P. 247

yang menyangkut syarat terbuka, akuran dan comparable. Kedua, bertanggung
               jawab yaitu perusahaan harus memiliki sistem pertanggungjawaban kepada
               shareholder    dan    stakeholders.  Ketiga,  akuntabilitas  yakni  memiliki
               mekanisme pengendalian efektif dan adanya distribusi kekuasaan. Keempat,
               moralitas, meliputi karakter kejujuran, keadilan, dapat dipercaya, kebebasan,
               pertanggungjawaban individu dan komitmen sosial. Kelima, keandalan, yakni
               memiliki kemampuan kesiapsiagaan dan kompetensi sesuai tuntutan teknologi
               dan kebutuhan manajemen.

                    Pelaksanaan prinsip GCG sudah barang tentu mensyaratkan perubahan
               pola  pikir  dan  pola  tindak  yang  tidak  saja  mementingkan  aspek  kinerja
               keuangan  tetapi  sudah  meluas  pada  aspek  dampak  yang  ditimbulkan  dari
               proses operasional perusahaan bagi masyarakat luas. Dapat dipastikan bahwa
               pelaksanaan  prinsip  GCG  seharusnya  menuntut  perusahaan  menggunakan
               nilai-nilai spiritualitas dalam operasional bisnis sampai dengan pengukuran
               kinerjanya.  Survei  Swa  pada  tahun  2006  menunjukkan  bahwa  perusahaan
               yang menerapkan prinsip GCG ternyata memiliki kinerja unggul seperti PT.
               Astra Internasional Tbk, PT. Kalbe Farma Tbk, PT KAI, PT Telkom Tbk dan
               banyak perusahaan lainnya.

                    Akan  tetapi  kasus  yang  terjadi  di  beberapa  raksasa  bisnis  di  Amerika
               Serikat,  yang notabene gudangnya pelaksanaan  best practice company dan
               multinational company ternyata mengalami kebobolan akibat kejahatan kerah
               putih seperti yang dialami oleh Enron, Worldcom, Xerox, Arthur Anderson,
               Merck.  Kasus  ini  terjadi  karena  perusahaan-perusahaan  itu  hanya  mampu
               membesarkan perusahaan tetapi gagal membesarkan karyawan-karyawannya.
               karyawan  menjadi  sangat  pragmatis  dan  rakus,  sehingga  segala  yang
               dilakukan terkungkung pada norma matematis dan legalitas. Hal ini akhirnya
               mengakibatkan orientasi yang salah arah karena orang-orang kuncilah yang
               pada  akhirnya  melakukan  kejahatan  dan  menghancurkan  perusahaan  yang
               notabene dibesarkannya sendiri.












                                                   223
   242   243   244   245   246   247   248   249   250   251   252