Page 248 - How to Develop Corporate In Indonesia Especially in Region
P. 248
1.6.4 Spirituality Corporate Governance
Ketidakkonsistenan hasil dari penerapan GCG menyisakan berbagai
pertanyaan. Lebih lanjut Ghani (2005) memperkenalkan prinsip GCG
(Spirituality Corporate Governance) berbeda dengan GCG yang merupakan
sistem manajemen yang berbasis science and art (knowledge) yang berasal
dari pengembangan ilmu sekuler. SCG menempatkan pertanggungjawaban
spiritual sebagai landasannya. Prasyarat yang ada dalam prinsip-prinsip GCG
hanyalah sebagai alat ukur material, sedangkan yang paling penting yang
sifatnya materiil dan hakiki adalah meletakkan profesi sebagai ibadah,
pengembaraan makhluk menuju yang diridhoi Allah. Prinsip tersebut juga
berarti menempatkan Allah sebagai bagian dari Stakeholder perusahaan
bahkan Allah merupakan the ultimate stakeholder (Ghani, 2005).
Konsep spiritualitas sering disamakan dengan religiusitas dan etika
(perilaku etis menurut agama). Religiositas dapat dilihat dari tiga komponen
yakni komponen knowing (kognitif), feeling (afektif) dan doing (behavior).
Komponen kognitif disebut komponen orthodoxy. Komponen afektif
merupakan dimensi perasaan dan menunjukkan perasaan terhadap seseorang
terhadap religi yang dianut, objek atau institusi sebagai sebuah komitmen
keberagaman. Sedangkan komponen behavior merupakan perilaku seperti
mendatangi masjid atau gereja, sumbangan uang, sembahyang dan membaca
kitab suci (Ghozali, 2002).
Spiritualitas tidak berarti sebagai sesuatu yang berhubungan dengan
agama atau sistem keyakinan teologis tertentu. Istilah spiritual berasal dari
bahasa Latin : spiritus, yang berarti sesuatu yang memberikan kehidupan
adalah kebutuhan untuk menempatkan upaya kita dalam satu kerangka makna
dan tujuan yang lebih luas (Zohar dan Marshall, 2005).
Penerapan nilai-nilai spiritualitas dalam bisnis secara luas memang bukan
lagi sesuatu yang aneh. Walaupun masih ada beberapa pendapat yang tidak
mendukung namun agaknya perkembangan yang terjadi semakin
menunjukkan trend yang sangat dinamis dan semakin meluas. Pendukung
konsep ini meyakini bahwa hal ini sebagai terobosan strategi bisnis untuk
melayani masyarakat yang sudah muak dengan praktik bisnis curang tanpa
etika (Agung 2003 dalam Sule dan Mulyana, 2004). Antonio (Swa, Maret
2007) menyatakan bahwa pertumbuhan perusahaan merupakan sesuatu yang
224

