Page 360 - How to Develop Corporate In Indonesia Especially in Region
P. 360
melalui cara penyusupan (infiltrasi) maupun dengan menggunakan
alat atau senjata (weapons).
3) Recuperability, yaitu kemampuan sistem yang ada untuk
memulihkan diri dari sebuah serangan. Faktor ini mengusung
pertanyaan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengganti
atau memperbaiki target setiap kali mendapat serangan (kerusakan)?
4) Vulnerability, yakni kerentanan atau kemudahan terjadinya serangan.
5) Effect, yakni jumlah kerugian langsung akibat terjadinya serangan.
6) Recognizability, yakni kemudahan dalam mengenali sebuah target.
7) Shock, yakni efek psikologis dari sebuah serangan.
Hasil dari analisis tentang ketujuh faktor tersebut menjadi rumusan dasar
bagi pengelolaan dalam membangun dan mengembangkan strategi
pengamanan. Sementara itu, Vulnerability Self Assessment Tool (VSAT)
merupakan metodologi sekaligus software yang digunakan untuk membangun
atau merancang sistem keamanan yang mampu melindungi target spesifik dari
aksi-aksi spesifik lawan (adversaries). Cara ini dianggap pula sebagai
metodologi kualitatif berbasis nilai kegunaan (asset-based). Tujuannya adalah
untuk menaksir kerentanan, mengembangkan prioritas berdasarkan biaya dan
kelayakan satu proses remediasi, dan menentukan solusi yang paling potensial
untuk kerentanan yang paling diprioritaskan. Software VSAT sendiri juga
memungkinkan bagi petugas pengamanannya untuk memodifikasi dan
merancang perlakuan tambahan (ancaman buatan) dan tindakan balasan
(countermeasure).
VSAT juga menggunakan sebuah garis penilaian dan analisis
penyempurnaan untuk menghitung Risk Reduction Units dari ‘tindakan
balasan yang ditentukan’ dalam proses analisis. Biaya dari modifikasi ini
kemudian dikalkulasi, dan hasilnya menjadi patokan untuk menentukan biaya
atau modal dalam melaksanakan rancangan pengamanan. Terdapat sebelas
langkah penilaian dalam metode VSAT, yaitu (1) mengidentifikasi aset; (2)
mengidentifikasi ancaman; (3) menentukan simpul yang rentan; (4) mengenali
keberadaan tindakan balasan (countermeasure); (5) menentukan tingkat
risiko; (6) menentukan kemungkinan terjadinya kesalahan atau kegagalan; (7)
menetapkan kerentanan; (8) menentukan kecocokan risiko; (9)
mengembangkan tindakan balasan (countermeasure) baru; (10)
336

