Page 60 - How to Develop Corporate In Indonesia Especially in Region
P. 60

hingga pada angka Rp. 18-19 ribu per kilogram. Padahal sebelumnya,
                    harga karet berkisar Rp. 26 ribu – 27 ribu per kilogram. “Tahun 2014 ini
                    harga karet malah turun lagi tinggal Rp. 15 Ribu per kilogram”, katanya.
                    Selain akibat harga karet di pasaran mengalami penurunan, kebun karet,
                    kopi,  kakao,  dan  cengkeh  yang  dikelola  Kahyangan  juga  mengalami
                    penurunan  produksi.  Penyebabnya,  banyak  tanaman  tua  yang  perlu
                    diganti. “Target produksi karet 1.500 ton per tahun, tapi nyatanya hanya
                    mampu produksi sekitar 1.000 ton karet.”
                        Karet  merupakan  komoditas  yang  menjadi  penyangga  utama
                    pendapatan Kahyangan. Sedangkan kopi, kakao, dan cengkeh dianggap
                    produk  tambahan.  Dari  sekitar  4.200  hektare  lahan  yang  dikelola
                    perusahaan daerah Jember, Lahan yang terluas adalah areal tanaman karet
                    yang mencapai 2.500 hektar. Komoditas itu dihasilkan dari kebun milik
                    Perkebunan  Kali  Mrawan,  Sumberwadung,  Gunung  Pasang,  Ketajek,
                    Sumber Tenggulun, dan Sumberpandan.
                        Sejak  kondisi  perusahaannya  mulai  limbung,  Sudjatmiko  telah
                    mengusulkan program efisiensi kepada Bupati Jember. Bentuk efisiensi
                    itu,  berupa  perampingan  struktur  kepegawaian  dan  pemangkasan
                    anggaran fasilitas pejabat perusahaan perkebunan.

                    2)  PD  Prodexim  dan  PD  Grafika  Meru  di  Provinsi  Sumatera
                        Selatan

                        Surat kabar Musi Pos edisi 10 Februari 2009 memberitakan ada dua
                    perusahaan daerah milik Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan yakni PD
                    Prodexim  dan  PD  Grafika  Meru  mengalami  kerugian  dan  terancam
                    bangkrut. Asisten II Pemprov Edi Hermanto mengungkapkan pihaknya
                    perlu  melakukan  restrukturisasi  manajemen,  sehingga  perusahaan-
                    perusahaan  tersebut  bisa  dikelola  secara  profesional  dan  memberikan
                    keuntungan bagi daerah. Edi Hermanto berpendapat “Perlunya figur-figur
                    profesional  dalam  mengelola  perusahaan-perusahaan  tersebut  dan
                    memiliki  jiwa  entrepreneur.  Tidak  penting  mereka  pegawai  negeri
                    maupun swasta.”

                        Untuk  mengetahui  kondisi  kedua  BUMD  tersebut,  Gubernur
                    Sumatera  Selatan  H.  Alex  Noerdin  meminta  manajemen  kedua
                    perusahaan tersebut melakukan pemaparan tentang kondisi keuangannya




                                                   43
   55   56   57   58   59   60   61   62   63   64   65