Page 167 - Harry Potter and The Order Of The Phoenix
P. 167

saat --'


               'Kami tahu betul isi Pasal Tujuh, terima kasih banyak!' geram Fudge.


               'Tentu saja,' kata Dumbledore penuh sopan santun. 'Kalau begitu kita sepakat
               bahwa penggunaan Mantera Patronus oleh Harry dalam keadaan-keadaan ini
               jatuh persis ke dalam kategori keadaan-keadaan luar biasa yang digambarkan
               pasal tersebut?'


               'Jika memang ada Dementor, yang kusangsikan.'


               'Anda telah mendengarnya dari seorang saksi mata,' Dumbledore menyela.
               'Kalau Anda masih meragukan kejujurannya, panggil dia kembali, tanyai dia
               lagi, aku yakin dia tidak akan keberatan.'


               'Aku -- itu -- tidak --' gertak Fudge, sambil memainkan kertas-kertas di
               hadapannya. 'Itu -- aku ingin ini semua selesai hari ini, Dumbledore!'


               'Tapi tentunya, Anda tidak akan peduli berapa kali Anda mendengar dari saksi
               mata, kalau alternatifnya adalah kegagalan menjalankan hukum yang serius,'
               kata Dumbledore.


               'Kegagalan serius, topiku!' kata Fudge pada puncak suaranya. 'Pernahkah kamu
               bersusah-payah menjumlahkan semua cerita omong kosong yang telah
               dikeluarkan anak ini, Dumbledore, selagi mencoba menutup-nutupi
               penyalahgunaan sihir di luar sekolah yang menyolok olehnya? Kukira kau telah
               lupa Mantera Melayang yang digunakannya tiga tahun yang lalu --'


               'Itu bukan aku, pelakunya peri-rumah!' kata Harry.


               'KAU LIHAT?' raung Fudge, sambil memberi isyarat dengan semarak ke arah
               Harry. 'Peri-rumah! Dalam rumah Muggle! Kutanya kau.'


               'Peri-rumah yang dimaksud sekarang dipekerjakan di Sekolah Hogwarts,' kata
               Dumbledore. 'Aku bisa memanggilnya ke sini dalam sekejap untuk memberi
               kesaksian kalau Anda mau.'


               'Aku -- bukan -- aku tidak punya waktu untuk mendengarkan para peri-rumah!

               Lagipula, itu bukan satu-satunya -- dia menggelembungkan bibinya, demi

               Tuhan!'
   162   163   164   165   166   167   168   169   170   171   172