Page 415 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 415

Keping 74


             “Jauh.”
             “Tuh, ke jauh, katanya. Yuk.” Bong menepuk lengan Fadil.
             Alfa melirik Bodhi, dan Bodhi pun melirik balik. Ia bisa

           merasakan kerisauan Alfa, tapi Bodhi lebih tahu Bong. “Kalau
           kalian mau ngantar, ya, terserah,” ujarnya. “Sampai secukupnya
           gue, ya.”
             “Bentar, ambil kunci dulu,” kata Fadil yang kemudian pergi
           masuk, diikuti oleh Bong.
             Bodhi langsung mendekati Alfa. “Bong memang suka over-
           protektif. Kalau kita tolak sekarang, dia bakal tambah curiga.”
             “Apa pun yang terjadi, mereka nggak bisa tahu kita ke
           mana,” bisik Alfa.

             “Mereka segelintir orang di dunia ini yang aku bisa percaya.”
             “Mungkin buatmu. Belum tentu buatku.”
             Bong kembali ke teras, sudah dengan bersepatu dan
           menyandang ransel. “Jadi, ke mana kita?”
             “Bogor,” Bodhi menjawab tegas.






           Ujung gerbang Jagorawi sudah terlihat.  Tak dibutuhkan
           kepekaan ekstra untuk merasakan bagaimana canggungnya
           suasana di mobil itu. Bodhi jauh lebih diam daripada biasanya.

           Bong dengan kentara menunjukkan kecurigaannya kepada
           Alfa. Alfa pun tidak berusaha menutupi ketidakbetahannya.
           Di belakang kemudi, Fadil berharap perjalanan itu cepat-cepat
           berakhir.


           400
   410   411   412   413   414   415   416   417   418   419   420