Page 441 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 441

Keping 76


             Gio mengedarkan senternya ke arah kanan. Dua puluh
           meter dari tempat ia berdiri, tampak tongkat bambu dengan

           kain merah yang berkibar halus ditiup angin semilir. Gio
           menyenter ke arah depan. Menemukan batang kayu dengan
           beberapa garit penanda yang ia goreskan sendiri tadi siang.
           Jalurnya sudah tepat. Sekitar tiga puluh langkah ke depan, ia
           akan berhadapan dengan pohon Puntadewa.

             Gio mengurai lipatan lengan kemejanya yang tergulung,
           menurunkannya hingga ke pergelangan. Dari ranselnya, Gio
           mengambil sepasang sarung tangan dan sebilah parang. Lewat
           dari pohon Puntadewa, senter di kepalanya mulai menyala.






           Zarah tidak sempat mengenakan jam tangan ketika pergi

           tadi pagi, tidak pula ada jam di sekitarnya. Setiap detik yang
           berjalan di kamar itu terasa membengkak. Waktu merangkak
           lambat hingga akhirnya pintu itu terbuka.
             Zarah langsung berdiri siaga. Togu muncul di pintu dengan
           setelan yang tetap necis. Dalam hati, Zarah ingin mengingatkan

           bahwa celana pantalon dan kemeja nilon adalah pilihan konyol
           untuk memasuki Bukit Jambul, tapi ia juga ingin melihat Togu
           kepayahan melewati semak rotan dalam setelan itu.
             Togu sejenak melirik makanan di baki yang masih utuh.
           “Bodoh. Kau pikir badanmu jadi super mentang-mentang kau
           Peretas?”



           426
   436   437   438   439   440   441   442   443   444   445   446