Page 443 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 443

Keping 76


           Napas Gio memburu. Peluhnya membanjir. Pendakian bahkan

           belum dimulai. Beberapa jam pertama ia habiskan untuk
           membabat semak rotan. Menembusnya inci demi inci. Ia lepas
           dari gerbang neraka itu dengan kemeja penuh koyakan. Gio
           melepas kemeja itu dan memasukkannya ke ransel, tinggal

           selapis kaus abu-abu menempel di badannya.
             Sambil mengatur napas dan menenggak air putih,
           Gio  mempelajari  medan di  sekelilingnya. Lanskap yang
           menyambutnya terasa jauh berbeda. Hutan itu tidak sepadat
           kesan luarnya. Sekilas, batang-batang pohon besar itu tersusun
           rapi, seolah mereka tumbuh dengan garis panduan. Gio tidak

           yakin setapak yang disebut Zarah masih ada. Meski demikian,
           jalur yang terbentang di hadapannya sekarang kelihatan cukup
           mudah untuk dilalui.
             Tangannya meraih tombol di senter kepala. Entah

           bagaimana, Gio tergerak untuk memadamkan nyala senternya.
             Dari sepotong langit yang terlihat di balik pepohonan, awan
           mulai membuka. Menyeruaklah bulan yang hampir penuh.
           Pucuk-pucuk daun berangsur memerak. Hutan Bukit Jambul
           mulai menampakkan wujudnya. Gio terkesiap. Ia menapak

           tepat di sebuah jalur lurus yang dipagari pepohonan. Jalur itu
           menanjak ke atas. Menuju puncak.










           428
   438   439   440   441   442   443   444   445   446   447   448