Page 654 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 654

IntelIgensI embun PagI

           Dolok Simaung-Maung. Dalam waktu singkat, puncak kering
           itu berubah menjadi medan berlumpur. Aroma tanah menguap

           ditiup amukan angin.
              Mata Ishtar memejam. Guyuran air dari atas pun melewati
           mereka, membiarkan para Sarvara tetap kering dalam kubah
           tak terlihat.
              Dengung panjang itu kembali terdengar, berbaur dengan

           bunyi tamparan air dan rentetan ledakan guntur di angkasa.
              “Mereka mulai terkunci!” seru  Toni, suaranya bertarung
           dengan badai. “Berpencar!”
              Di sebelah Toni, Elektra meringis menahan tangis. Hatinya
           masih berontak melawan informasi terakhir yang ia dapat
           dari  Toni.  Tempat ini pun seperti sedang menghukumnya.
           Jantungnya bagai diremas, kepalanya seperti ditekan dari
           berbagai arah, membuat napasnya yang sudah terengah akibat

           berlari semakin kepayahan. Elektra sudah ingin pingsan
           rasanya, tapi ia tahu harus terus bertahan. Tertatih, ia berlari
           mengambil posisi yang diinstruksikan Toni.
              “Tekanan ini….” Zarah terhuyung.
              Gio mengecup sekilas kening Zarah. “Sekarang,” bisik Gio.

              Zarah mengangguk. Sambil terus melangkah, Zarah
           merogoh kantongnya.  Muscimol.  Zat aktif dari  Amanita
           muscaria yang dibutuhkan untuk mempersiapkan fisiknya.
              Kejadian di Bukit Jambul pun berulang. Zarah bisa
           merasakan tubuhnya mencerna dan memecah zat aktif dalam
           jamur itu dengan kecepatan yang mengerikan. Pandangannya



                                                                 639
   649   650   651   652   653   654   655   656   657   658   659