Page 129 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 129
KEPING 10
Malam panas akan cinta yang menggila ketika pintu pen-
jara itu dibuka. Kebebasan dalam episode singkat.
Terkutuklah Jakarta yang memaksa warganya tua di jalan
raya.
Ferre
Ada saat tatkala kata terasa sia-sia. Di tempat tidur Re yang
nyaman, mereka berdua menatap jendela. Hanya mengingat
rasa.
Alam begitu murung sekaligus indah. Hujan terlihat ra pat
di hamparan lapangan golf itu. Rasanya ia sedang ber kaca.
Aku merasa begitu kecil di tengah keluasanku.
Rintikmu raksasa dalam mungil tetesmu.
Engkau menyelimuti dengan dingin.
Dan, semakin kau merapat, semakin membara alam ini.
Jutaan engkau kini turun membanjiriku.
Tak akan pernah aku meluap, Putri.
Kugali tanahku lebih dalam dan kubuka semua celah
untuk menyerapmu.
“Rana. Jangan pulang.”
Ia tidak menjawab. Tapi, tubuh itu mengirimkan ge taran-
getaran yang sudah sangat ia hafal.
“Rana. Jangan menangis.”
118

