Page 131 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 131
KEPING 10
Rana mendapati dirinya dalam dilema yang sama, lagi
dan lagi. Ia lelah.
“Mungkin lebih baik aku pulang,” Rana berkata lirih.
“Ya, mungkin lebih baik begitu.” Re pun bangkit.
Kebahagiaan dan kesedihan kejar-mengejar bagai dua
hantu penasaran. Sedangkan mereka berdua adalah lin tasan
yang letih dilewati, tetapi tak bisa bergerak ke mana-mana.
Dan, waktu adalah pak tua yang cuma diam meng amati,
angkuh memegangi bandul detiknya yang tak ber kompromi.
Dimas & Reuben
Dimas yang pegal-pegal punggung akhirnya bangkit dari
kursi kerjanya. Diambilnya back roller dan sibuklah ia me re-
gangkan badan dengan per besar itu.
Reuben mengamati kegiatan pasangannya. Tercenung.
“Apa lihat-lihat?”
“Kamu tahu apa yang dikatakan Einstein tentang wak tu?”
“Waktu juga meregangkan punggung?” cetus Dimas asal.
“Ya.”
“Ha?”
“Waktu bukan cuma bisa dipahami lewat detik jam. Me-
mangnya apa itu detik? Apa itu jam? Apa itu hari? Se kadar
istilah buat dikotomi langit terang dan langit gelap, kan?”
120

