Page 132 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 132
KeKeKalan adalah Chaos
“Jangan sok dekonstruktif. Memangnya kamu bisa ba yang-
kan, apa jadinya dunia ini kalau nggak ada detik dan jam?”
“Hanya tidak ada satuan. Waktu sendiri, apa itu wak tu?”
“Pikir sana sendiri! Kamu yang nanya, kok, aku yang su-
ruh jawab.”
“Itu pertanyaan retoris, you silly.”
“Whatever.”
“24 jam, 365 hari, itu cuma satuan. Bagian dari sistem
ka lender yang bukan cuma satu di dunia. Tapi, coba kita
le bih akrab sedikit dengan waktu, bukan cuma lihat sisi
mekanisnya, melainkan dari sisi yang lebih pribadi. Kalau
kata Einstein, waktu itu seperti karet. Elastis. Contohnya, di
rumah orangtuamu, sedetik rasanya satu eon buatku. Tapi,
di Barnes & Noble, rasanya kalau perlu bumi nggak usah
berputar,” Reuben menjelaskan.
“Selain menghina orangtuaku, poin apa lagi yang kamu
ingin sampaikan, heh?”
“Oke, oke. Ada tiga perspektif di sini.” Reuben meng-
gosokkan tangannya bersemangat. “Pertama, waktu yang
me kanis, tik-tok-tik-tok jam di dinding. Kedua, waktu yang
relatif—”
“Waktu di rumah orangtuaku dan waktu yang di Barnes
& Noble,” potong Dimas mangkel.
“Pintar. Dan, waktu yang ketiga, waktu ilusif. Bertolak
dari premis bahwa sesungguhnya waktu tidak ada.”
“Lalu, hubungannya dengan back roller ini?”
121

