Page 134 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 134
KeKeKalan adalah Chaos
“Yaitu?”
“Kekekalan. Kekekalan adalah chaos, Dimas. Dan, cortex
menerjemahkannya menjadi masa lalu, masa seka rang, dan
masa depan.”
“Tapi, untuk apa?”
“Untuk apa?” tawa Reuben menyembur. “Agar kita tahu
apa rasanya tumbuh, berkembang. Berevolusi. Mati dan
hidup tak lebih dari sekadar gerbang pengalaman. Kita me-
milih mengalami keduanya dari detik pertama kita jadi
embrio. Ingat, yang penting bukan dua ujung itu, melainkan
proses di tengahnya. Dalam hidup ini, fisik kita pun melalui
berbagai suksesi ritme; tubuh yang tumbuh, sel yang terus
berganti. Dan, ritme suksesi yang sama juga berlaku untuk
seluruh penghuni alam raya ini. Waktu me rupakan catatan
penunjang dari suksesi alam.”
“Tapi, lucunya, konsep waktu dimunculkan manusia di
level pikirannya. Bukan fisik. Sel sendiri nggak kenal kon sep
waktu, kan? Ia cuma memperbarui diri, terus-me nerus, tanpa
ada sangkut pautnya dengan hitungan sekon. Manusia
sendirilah yang mengadakan waktu linear dan setuju untuk
mengikutinya.”
“Bingo! Konsep waktu lahir dari keinginan fundamental
manusia untuk punya kendali atas hidup, termasuk me ngen-
dalikan dirinya sendiri. Masa sekarang, masa lalu, dan masa
depan, sesungguhnya hanya satu gerakan tunggal. Keke-
kalan.”
123

