Page 130 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 130
KeKeKalan adalah Chaos
“Kamu baru saja mengatakan dua permintaan yang sama-
sama mustahil.”
“Jangan pernah bilang ‘mustahil’. Aku ngeri mende-
ngarnya.”
“Tapi, kita bisa apa?”
Pelukan itu perlahan mengendur. “Pertanyaan itu untuk
kamu, Putri. Bukan untuk aku.”
“Kamu memang nggak mengerti, nggak akan ada yang
bisa.”
Re mengatupkan rahangnya kuat-kuat. Mereka akan me-
masuki gerbang debat kusir, dan ia tak mau itu.
“Ikatanku banyak. Bukan cuma pernikahan dua orang,
tapi aku juga menikah dengan keluarganya, dengan selu ruh
lapisan sosialnya. Aku nggak kayak kamu yang punya ba-
nyak kebebasan. Kamu nggak bisa membandingkan—”
Re memutar tubuh Rana, menatapnya lurus-lurus. “Aku
nggak membandingkan karena aku tahu persis pem ban-
dingan tidak akan membawa kita ke mana-mana. Tapi, aku
bisa lihat kamu memilikinya. Kekuatan untuk mendobrak.
Membebaskan diri kamu sendiri.”
“Mendobrak apa? Moralitas? Norma sosial? Kita hidup di
dalamnya, Re. Aku cuma ingin mencoba realistis—”
“Tidakkah kamu menyakiti dirimu sendiri dengan me-
nem patkannya demikian? Apa yang jahat di sini, Rana? Ja-
hat kah aku mencintai kamu mati-matian? Begitu amo ralkah
semua perasaan ini?”
119

