Page 135 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 135

KEPING 10


             “Nah, kalau masa depan cuma ilusi, lalu bagaimana de-
           ngan ramalan, clairvoyance, horoskop, dan sejenisnya itu?”

             “Dalam kekekalan hadir segalanya. Medan matriks yang
           tak terhingga berisi segala probabilitas dan potensi. Pada
           hakikatnya, semua ramalan berbicara di level potensi. Na-
           mun, kita menjalaninya dengan tendensi. Tendensimu akan
           memanifestasikan potensi tertentu. Tidak ada ke mutlakan.

           Tapi, poinnya adalah potensi yang termanifes tasi dan tidak,
           nilainya sama-sama saja. Tidak menjadikan yang satu lebih
           penting dari yang lain. Itulah dahsyatnya kekekalan.”
             “Berarti,  ada  dua  aspek  dalam  memahami  realitas.  Per-
           tama, aspek lokal, yang berkenaan dengan otak sebagai organ
           yang empiris. Lalu, aspek global, yakni kesadaran yang men-
           cakup semua pengalaman empiris, temasuk pengalaman me-
           miliki organ otak itu sendiri.”

             “Ckckck, analisis yang bagus. Aku benar-benar terke san.
           Kamu benar-benar makin mirip aku,” Reuben ber decak
           bangga.
             “Lalu, bagaimana dengan masa lalu? Apa yang kita per-
           buat kemarin pasti memiliki jejak, kan?”

             Reuben mengangkat bahunya enteng. “Kalau kamu me-
           mang doyan koleksi sampah, ya, iya.”
             “Aku serius. Itu yang selalu menjadi kebingunganku de-
           ngan objek kuantum. Misalnya, bulan itu,” Dimas me nunjuk
           ke luar jendela, “bulan sebagai objek kuantum hanya bisa
           diamati apabila ada aku sebagai pengamat, be tul begitu?”



           124
   130   131   132   133   134   135   136   137   138   139   140