Page 239 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 239
KEPING 22
“Ada apa, Mas?” Rana berlagak pilon.
Suaminya hanya diam. Menatapnya dengan tatapan yang
tak pernah ia lihat sebelumnya. Ada kedukaan di sana. Luar
biasa dalam. Tanpa satu potong pun kata, Rana sudah bisa
membaca semua. Bahasa tak mampu lagi mem bungkus apa
yang tengah bersaling-silang keluar dari be nak mereka.
Lama keduanya bertatapan. Seperti orang asing.
Dengan khidmat, pria itu pun akhirnya beranjak men-
dekat. Merengkuh istrinya dari belakang. Begitu hening.
Begitu anggun.
Rana belum pernah mengalami momen seorisinal ini.
Bertahun-tahun hidup dengan Arwin dalam ketertebakan,
Rana kini merasa terapung dalam suasana yang sangat mis-
terius. Satu momen terbentang menuju jalan yang tak tahu
berakhir di mana. Satu sensasi yang sama sekali baru.
“Aku tahu semuanya.” Suara Arwin mengalir bagaikan
gletser. Membekukan lereng hati.
Arwin
Gelap.
Suara gerimis.
Embusan sekali-sekali napas-napas berat.
Bahkan, denyut nadi pun dapat terdengar kalau disimak
benar.
228

