Page 240 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 240

Pelajaran Terbang

              Perlahan, ada isakan lirih. Mengambil porsi dalam ma lam
           yang rasanya tak bergerak.

              “Jangan menangis. Aku mohon.”
              Isakan itu tetap tidak berhenti.
              “Kalau kamu benar-benar mencintainya, aku rela kamu
           pergi. Aku nggak akan mempersulit keadaanmu. Keadaan
           kita. Kita sama-sama sudah terlalu sakit. Bukan begitu?”

              Tidak ada jawaban.
              “Aku mencintaimu. Terlalu mencintaimu. Kamu nggak
           akan pernah tahu betapa besar perasaan ini....”
              Isakan itu malah menjadi.
              “Perasaan ini, cukup besar untukku kuat berjalan sen-
           dirian tanpa harus kamu ada.” Terdengar suara menelan
           ludah. “Tidak akan mudah, tapi aku nggak mau mem buatmu
           tersiksa lebih lama lagi. Hanya saja, tolong,” na pas itu

           tercekat, “jangan menangis lagi. Aku sudah terlalu sering
           mendengar kamu menangis diam-diam, dan itu sa ngat
           menyakitkan. Aku mohon.”
              Hatinya malah tersayat lebih melesak.
              “Lama aku berusaha menyangkal kenyataan ini, tapi

           sekarang nggak lagi. Kamu memang pantas mendapatkan
           yang lebih. Maafkan aku nggak pernah menjadi sosok yang
           kamu inginkan. Tidak menjadikan pernikahan ini seperti
           apa yang kamu impikan. Tapi, aku teramat men cintaimu,
           istriku... atau bukan. Kamu tetap Rana yang kupuja. Dan,





                                                                 229
   235   236   237   238   239   240   241   242   243   244   245