Page 258 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 258
Kesatria schrödinger
mana. Lima jam mengamati rumah seberangnya telah me-
nam batkan rasa penasaran, dan ia masih menunggu tanda-
tanda.
Sore berganti malam. Malam bertambah larut, dan te tap
tidak ada perubahan.
Menjelang tidurnya, Diva pun masih menyempatkan diri
memandangi rumah itu. Ia terus bertanya-tanya. Apa yang
ter jadi denganmu, wahai, kau yang jatuh cinta? Te ngah meng-
awangkah dirimu? Atau, tergolekkah engkau di dasar jurang
yang kau gali sendiri, beralaskan remah-remah kehancuran
hatimu?
Sampai esok hari, tirai itu tetap tidak terbuka.
Dimas & Reuben
“Paradoks ini harus diselesaikan. Apa pun caranya,” gu mam
Dimas gelisah.
“Berarti, harus ada pengamat yang mengintervensi.”
Reuben menatap Dimas lurus-lurus. Itu sebuah kode.
“Taruhan kita tadi, Reuben.” Dimas menatapnya balik.
“Koin itu sudah melayang, bukan?”
Reuben mengangguk kecil. Sambil mengepalkan ta ngan-
nya, ia berkata, “Sudah kutangkap. Dan, mungkin sekarang
saatnya kita buka.” ■
247

