Page 262 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 262

Di Dasar Jurang

                       Tapi, tentunya Kau masih ingat aku,
                      sebagaimana aku tak menyangkal-Mu.

                     Dan, jika ini detik-detik penghabisanku,
                         bebaskan aku berbicara semauku.
               Izinkan aku kesal kepada-Mu di dalam kepasrahanku.
                  Sepanjang hidup Engkau selalu membingungkan.
                 Dengan cara-cara aneh, Kau tunjukkan keagungan.

                    Kau, dengan teka-teki-Mu bernama Takdir.
             Bahkan, di saat seperti ini, ada saja cara kalian membuatku
                            tertawa sekaligus tersindir.




           Dimas & Reuben



           Suasana kamar kerja itu menjadi sangat senyap. Keduanya
           mencurahkan konsentrasi mereka dengan penuh kesung-
           guhan. Tak ada hal di benak mereka selain Kesatria dalam

           rumahnya yang tertutup.
              “Dengan sisa kekuatan dalam dirinya, ia menantang sang
           Pencipta. Di dunia yang serbaseragam, ia ingin mencuri
           perhatian-Nya, sekalipun harus dengan cara mengumpat.”
           Dimas mengucapkan lantang apa yang ia ketik.
              Reuben menarik napas. Tegang.
              “Siapa yang menyangka? Dalam benda semungil itu, ada
           malaikat maut yang akan melarikan nyawanya pergi. Dan,
           betapa dingin genggamannya....”



                                                                 251
   257   258   259   260   261   262   263   264   265   266   267