Page 253 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 253

KEPING 24


             “Baiklah. Dimensi paralel... batal. Silakan teruskan,”
           Dimas mengalah dalam gerutu. Terpaksa membanjur lagi

           ko baran idenya.
             “Aku sedang memikirkan gambar gestalt. Kamu tahu apa
           itu?”
             “Bahasamu  selalu  susah.  Itu  menjebak,  tahu  nggak?

           Kadang-kadang yang kamu maksud cuma hal umum, tapi
           bahasamulah yang tidak umum.”
             “Salah sendiri  nggak  tahu,”  balas  Reuben tidak  mau
           kalah. “Gambar gestalt adalah gambar beranak gambar. Con-
           toh yang paling umum adalah gambar gestalt nenek tua dan
           gadis cantik. Kedua citra itu hadir sekaligus, dan merupakan
           satu gambar, tapi kamu tidak bisa melihat ke duanya secara

           bersamaan. Kamu harus memilih satu an tara dua sudut
           pandang untuk menentukan apakah itu nenek tua atau gadis
           cantik. Setiap kamu melihat gambar  gestalt, kamu harus
           memilih.”

             “Tuh, kan. Aku tahu gambar yang kamu maksud. Tapi,
           nggak pernah tahu namanya gestalt.”
             “Makanya, salah sendiri,” Reuben masih tidak mau ka lah.
           “Aku teruskan, oke? Realitas ini termanifestasi sama seperti
           gambar gestalt. Kita tidak merobek gambar itu jadi dua atau
           membolak-balik kertasnya. Tapi, kesadaran kita memilih, dan
           mengenali  pilihan  yang  kita  buat.  Nah,  sama  juga  dengan

           sang Kesatria, kesadaranlah yang memilih dan menentukan
           nasibnya.”


           242
   248   249   250   251   252   253   254   255   256   257   258