Page 254 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 254

Kesatria schrödinger

              “Aku jadi nggak mengerti. Kita sering sekali bicara ‘ke-
           sadaran’, tapi kesadaran seperti apa yang kamu maksud

           barusan?” tanya Dimas, benar-benar tersesat.
              “Itu dia. Persis seperti kasus Epimenides. Kalau kita bi-
           cara kesadaran di level lokal, kita akan terjebak dalam diko-
           tomi tak ada habisnya itu. Artinya, kesadaran yang ku mak-
           sud harus berada di luar sistem, di luar ta tanan realitas

           materi.” Reuben menjawab mantap.
              Dimas membisu, lama. Berusaha mengasosiasikan pe-
           mahaman baru itu.
              “Kenapa? Masih ada konsep yang belum jelas?” Reuben
           menangkap tanda tanya yang beterbangan di sekitarnya.
              “Ya, sebenarnya ada,” ujar Dimas penasaran. “Apa yang
           kamu bilang tadi—bahwa dalam realitas materi ini, kesa-
           daranlah yang menggagalkan aspek gelombang—benar-be nar

           terdengar logis dan akademis. Lalu, apakah ada situasi di
           mana ada pengamat, tapi tidak dalam keadaan sadar? Kamu
           tahu betapa paradoksnya hal itu?”
              Reuben tersenyum tenang, sepertinya ia sudah meng-
           antisipasi munculnya pertanyaan barusan. “Di sinilah pen-

           tingnya pemilahan antara consciousness dan awareness. Sa dar
           dan terjaga. Kesadaran selalu bersih, tidak tersentuh, di
           domain nonlokal. Tapi, untuk menggagalkan salah satu
           aspek kuantum, dibutuhkan keterjagaan. Sementara ke adaan
           ‘tidak  sadar’  dalam  istilah  psikologi  umum  yang  kita  tahu





                                                                 243
   249   250   251   252   253   254   255   256   257   258   259