Page 264 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 264

Di Dasar Jurang

           Ferre


           Napasnya memburu, tetapi tidak ada tanda keraguan. Ia

           malah terlihat sangat tenang. Dibawanya silinder itu me-
           nancap di pelipis kanan.
              Re selalu ingin memilih yang kanan. Ia menganggap otak
           kanannyalah yang paling bertanggung jawab. Sumber dari
           segala  polemik  kognitif  yang  mengacaukan  sistemasi  otak
           kirinya yang tertata rapi itu.  Atau, jangan-jangan ke duanya

           berkomplot?
              Titik target berpindah. Kini, pistol itu tepat menancap di
           tengah-tengah keningnya.
              Katanya, di situ ada mata ketiga. Sial amat kalau begi tu.
           Padahal, ia tak mau melihat apa-apa lagi sesudah tewas
           nanti. Ia ingin buta dari dunia. Total.
              Re memejamkan mata. Mati sepertinya begitu nikmat.

           Kenapa juga dulu ia pernah dilahirkan?


           Dimas & Reuben


           Sampai pada gilirannya, Dimas terdiam. Ia menatap Reuben.

           Ia tak ingin ada di posisi itu, menjadi penentu bagi si pe-
           latuk.
              “Di mana peluru itu berada?” tanya Reuben, tegang.
              “Di putaran selongsong yang akan ia tarik sekarang,” Di-
           mas menelan ludah, “rolet Rusia ini berakhir terlalu cepat.”



                                                                 253
   259   260   261   262   263   264   265   266   267   268   269