Page 267 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 267

KEPING 26


           Dimas & Reuben



           “Sebentar!” seru Dimas. “Kita nggak bisa begini! Ini na ma-
           nya solipsisme, filosofi egois yang menempatkan kita sebagai
           satu-satunya  makhluk berkesadaran, sementara  yang lain
           cuma sosok imajiner. Aku tahu ini kedengarannya gila, tapi

           aku kembali merasakan hal itu. Seperti ada kehi dupan nyata
           yang terkait di cerita ini.”
             Reuben tidak bisa berkata-kata, tapi diam-diam ia pun
           merasakannya.
             “Aku nggak tahu apa yang kamu inginkan, Reuben. Tapi,
           tendensiku mengatakan, dia nggak boleh mati.”
             “Sebaiknya nggak,” sahut Reuben sembari mengusap

           wajahnya. Ia merasa lega dengan intervensi Dimas barusan.
             “Aku masih nggak tahu kelanjutan cerita ini, sekalipun
           kitalah yang memegang pena. Yang jelas, kita nggak boleh
           menyikapinya seperti tadi. Aku ingin kesadaran nonlokal itu
           yang berbicara. Entah caranya seperti apa. Tapi, tidak di
           tangan egoku, juga bukan di egomu.”

             “Tapi, kira-kira apa yang terjadi dengan Kesatria seka-
           rang?”
             “Jangan kita pikirkan hal itu dulu. Sebaiknya kita kem bali
           mengeksplorasi apa sebenarnya yang dimaksud dengan ke-
           sadaran. Aku benar-benar ingin tahu.”
             Reuben terkesiap. Tak pernah ia melihat Dimas begitu
           keras hati.



           256
   262   263   264   265   266   267   268   269   270   271   272