Page 169 - In a Blue Moon
P. 169

teman	yang	seakrab	itu	sampai	aku	bisa	ikut	campur	dalam
                hal	sepribadi	itu.	Lagi	pula...”
                  ”Wow...	 tunggu	 sebentar,”	 Lucas	 menyela	 rentetan	 kata-
                kata	Sophie.	Keningnya	berkerut	bingung.	”Dia	memintamu

                bertanya	padaku	kapan	aku	akan	melamarnya?”
                  ”Well,	 sebenarnya	 temannya	 yang	 memintaku	 bertanya,
                tapi	bukan	itu	intinya,”	tukas	Sophie.	”Intinya	adalah	mereka
                benar-benar	 berpikir	 sudah	 waktunya	 kau	 melamar...
                Miranda.”
                  ”Tapi	 aku	 tidak	 berniat	 melamarnya,”	 sahut	 Lucas	 terus

                terang.	”Hubungan	kami	selama	ini	tidak	seserius	itu.	Kami
                hanya	berteman	baik.	Dia	juga	tahu	itu.”
                  ”Kau	 yakin	 dia	 tahu?”	 tanya	 Sophie	 dengan	 nada	 tidak
                percaya.                                                  167

                  ”Dia	tahu,”	sahut	Lucas	yakin.	”Aku	tidak	pernah	melaku-
                kan	sesuatu	yang	membuatnya	berpikir	sebaliknya.”
                  ”Yah,	kalau	kau	yakin...”	kata	Sophie	tak	acuh.
                  ”Kami	hanya	berteman,”	Lucas	menegaskan	sekali	lagi.	Ia
                merebahkan	 tubuhnya	 ke	 ranjang,	 berbaring	 telentang	 me-
                natap	langit-langit	sambil	tersenyum	lebar.	”Lagi	pula,	bagai-

                mana	 aku	 bisa	 melamarnya	 kalau	 aku	 sudah	 punya	 tu-
                nangan?”
                  Sophie	 terkesiap	 berlebihan.	 ”Oh,	 kau	 sudah	 punya	 tu-
                nangan?	Astaga.	Kenapa	aku	baru	tahu?”

                  Lucas	tertawa.	”Ya.	Percaya	atau	tidak,	kakekku	yang	me-
                milihnya	untukku	dan	aku	sama	sekali	tidak	mengeluh.”
                  Sophie	mendengus,	namun	tidak	berkomentar.







        Ilana-In a Blue Moon Content.indd   167                     3/30/2015   10:43:21 AM
   164   165   166   167   168   169   170   171   172   173   174