Page 170 - In a Blue Moon
P. 170
”Baiklah,” kata Lucas sambil bangkit duduk kembali di tepi
ranjang. ”Sudah larut. Sebaiknya kau beristirahat.”
”Hei, Lucas?”
”Ya?”
”Kuharap kau tidak keberatan, tapi kakekku juga mengajak
Nic ikut ke Ramses hari Sabtu nanti. Nic kebetulan makan
malam bersama kami tadi, dan dia sudah seperti keluarga,
jadi...”
”Tidak apa-apa. Sama sekali bukan masalah,” sahut Lucas
ringan.
Jeda sejenak, lalu ia mendengar Sophie bergumam, ”Aku
minta maaf.”
”Untuk apa?” tanya Lucas heran.
”Karena kemarin malam. Seharusnya aku tidak menuduh-
168
mu tanpa alasan.”
Ah, Lucas mengerti. Sophie sedang membicarakan per-
selisihan mereka di dalam taksi kemarin malam. ”Tidak perlu
meminta maaf,” kata Lucas sungguh-sungguh. ”Aku sudah
melupakannya.”
”Kau benar,” lanjut Sophie, seolah-olah tidak mendengar
kata-kata Lucas. ”Nic memang seperti yang kaupikirkan.”
Lucas tidak berkomentar, membiarkan gadis itu bicara.
”Dia masih merahasiakan hal itu dari keluarga dan rekan-
rekan kerjanya.”
”Aku mengerti,” gumam Lucas. ”Karena itu dia kadang-ka-
dang memintamu berperan sebagai kekasihnya di depan
orang-orang? Agar tidak ada yang curiga?”
”Ya. Aku tidak mengerti kenapa bersikeras merahasiakan-
Ilana-In a Blue Moon Content.indd 168 3/30/2015 10:43:21 AM

