Page 16 - Supernova 4, Partikel
P. 16

Dalam setiap kunjungan, Umi selalu menyempatkan bertanya kepadaku, “Zarah sudah
        mau sekolah?”

          Aku menggeleng.

          Umi  lantas  meluangkan  waktunya  sejenak  untuk  mengeluarkan  bujuk  rayu  seperti,
        “Enak, lho, sekolah itu. Kamu nanti punya banyak teman. Punya banyak guru yang baik.
        Zarah, kan, sudah besar. Masa belum sekolah? Nggak malu sama anak-anak tetangga?”

          “Nggak.”


          “Kalau  Zarah  sekolah,  nanti  Umi  belikan  mainan  yang  banyak.  Apa  pun  yang  Zarah
        mau.”

          Aku menyumpal mulutku dengan opak. Menatap Umi sambil mengunyah. Lalu, kembali
        menggeleng.

          Umi cuma bisa melirik ibuku. Frustrasi.

          Sebagai  penengah  antara  orangtua  dan  suaminya,  Ibu  selalu  berusaha  menenangkan
        pihak Umi dan Abah. “Sepertinya tahun depan Zarah sekolah, kok. Tahun ini nggak usah
        dipaksa  dulu.”  Kepada  ayahku,  dengan  halus  Ibu  berusaha  mendorong  agar  aku

        dimasukkan ke SD. Namun, untuk urusan itu, Ayah bergeming bagai batu.
          “Tidak  perlu,  Aisyah.  Zarah  akan  jauh  lebih  pintar  kalau  aku  yang  mengajarnya

        langsung,” begitu selalu katanya.

          Memasuki  usiaku  yang  kedelapan,  Ibu  kehabisan  ide  untuk  menyelamatkan  Ayah  di
        depan Abah dan Umi. Akhirnya, ia pun cuma bisa menjawab pendek, “Firas tidak mau.”

          Kenyataannya, tak ada yang benar-benar paham mengapa Ayah, seorang dosen genius,
        yang kerap disebut-sebut sebagai “aset paling menjanjikan”-nya Institut Pertanian Bogor,
        sebegitu antinya pada sistem pendidikan formal.

          Ketegangan  antara  Ayah  dan  kakek-nenekku  makin  kentara.  Dalam  setiap  kunjungan
        rutin  Ibu,  Ayah  hanya  mau  turun  sebentar  untuk  mencium  punggung  tangan  Abah  dan

        Umi.

          “Sehat, Firas?” Hanya itu yang akan ditanyakan oleh Abah.

          “Alhamdulillah, Bah.” Hanya itu yang akan dikatakan oleh Ayah. Terlepas dia betulan
        sehat atau sedang flu.

          Umi  bahkan  tak  berkata  apa-apa.  Cuma  mengangguk  atau  tersenyum  samar  kepada
        Ayah.

          Setelah  sekian  lama  gesekan  itu  berlangsung,  Ayah  dan  kedua  mertuanya  sama-sama
        menyerah. Mereka saling menghindar, saling menjauh.

          Seiring dengan jarak yang melebar antara Ayah dan kedua mertuanya, aku bisa melihat

        usaha keras Ayah mengakomodasi rutinitas Ibu. Ke semua tempat yang rutin dikunjungi
        Ibu, Ayah senantiasa mengantar. Sesibuk apa pun Ayah, entah itu dari ruang kerja atau
        kampus, lima menit sebelum Ibu berangkat ia sudah siap berjaga di mobil VW Kodok-
   11   12   13   14   15   16   17   18   19   20   21