Page 238 - Supernova 4, Partikel
P. 238

bisa minggat?

          Semenit  kemudian,  selagi  otaknya  masih  berputar  mencari  opsi  tempat  numpang,
        seseorang menyeruak keluar dari sisi samping. Bagian itu adalah tempat makan-minum
        para pengunjung. Sebuah gerobak nasi goreng mangkal di sana.

          “Hai!  Bodhi?”  Ramah,  orang  itu  langsung  mengulurkan  tangan,  “Mpret.”  Kedua
        matanya bersinar hangat, menembus penampilan berantakan yang meliputi rambut jabrik

        tak tersisir, kaus longgar yang lusuh, dan sehelai sarung terbelit asal di pinggang.

          Mau tak mau, Bodhi menyambut jabat tangannya. Tak bisa lagi kabur. “Hai. Beneran
        sepupunya Bong?” tanyanya langsung.

          “Iya. Nggak mirip, ya?” Mpret nyengir. “Bong lagi keluar bentar. Dia tadi titip pesan, lu
        bakalan datang jam seginian. Makanya, tadi pas lu muncul, gua langsung tahu.” Mpret
        tidak sepenuhnya berterus terang. Orang keluar-masuk Elektra Pop setiap saat, tapi ada
        yang berbeda dengan Bodhi, yang membuatnya seketika yakin bahwa pemuda itulah yang
        selalu mendominasi topik pembicaraan sepupunya.


          “Sudah makan? Mau pesan nasi? Mi? Kopi? Teh?” Mpret menawarkan.

          “Nggak, makasih.” Aku ingin ditawari kesempatan kabur dari sini.

          “Elektra  sudah  tidur.  Dia,  sih,  manusia  normal.  Nggak  kalong  kayak  kita-kita.  Jadi,
        paling besok baru bisa ketemu,” kata Mpret lagi.

          Sialan. Bahkan dia pun sudah tahu. Bodhi menghela napas.

          “Nanti tidur di ruangan gua saja. Kita ngampar rame-rame. Kalau mau pakai internet
        juga bebas. Dua puluh empat jam nonstop. Pesan makan-minum, tinggal bilang.”

          Bodhi tersenyum, “Makasih, Mpret.” Kalau saja bukan karena misi yang satunya lagi, ia
        pasti akan kerasan di sini. Mpret adalah manusia yang bisa ia bayangkan menjadi teman

        baiknya.
          Seakan  membaca  bahwa  Bodhi  lebih  membutuhkan  ruang  untuk  sendiri,  Mpret

        memutuskan  mengambil  jarak  dulu.  Mengamati  tamunya  itu  dari  jauh.  Bertanya-tanya,
        apa  gerangan  yang  membuat  Bong,  manusia  paling  independen  yang  ia  tahu,  bisa
        menganggap manusia bernama Bodhi sebagai gurunya? Dari kali pertama muncul, Mpret
        seketika  tahu  Bodhi  berbeda.  Meski  ia  berjalan  dengan  dua  kaki  sebagaimana  manusia
        umumnya,  berpakaian  seperti  banyak  anak  punk  yang  ia  kenal,  ada  kualitas  lain  yang

        membuat ia mencuat. Namun, entah apa. Dan, Mpret amat penasaran mencari tahu.




        Elektra  terbangun  dengan  kepala  berdenyut  sebelah.  Semakin  lama  semakin  menekan.
        Sampai-sampai  mata  kanannya  tidak  bisa  dibuka  penuh.  Dengan  mata  pecak ia mandi,
        berpakaian, dan siap-siap ke ruang makan untuk sarapan.

          Sebagai pemilik rumah, ia memiliki hak istimewa untuk menempati bagian belakang,
        yang merupakan bagian tersunyi dari rumah besar nan hiruk pikuk ini. Di ruang makan

        yang bergabung dengan dapur itu, Elektra berkesempatan untuk membuat sendiri sarapan
   233   234   235   236   237   238   239   240   241   242   243