Page 38 - dasar-dasar Manajemen Pendidikan Islam
P. 38
Dasar-Dasar Manajemen Pendidikan Islam
siswa, ruang praktikum, laboratorium, rumah sakit, dan lain-
lain terlengkapi berkat perhatian besar pemerintah dan ma-
syarakat pada umumnya (Abudin Nata, 2015: 176).
Selain masjid, kuttab, badiah, istana, perpustakaan, dan
bimaristan—sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, pada
masa Abasiyah telah berkembang lembaga pendidikan berupa
toko buku, rumah para ulama, majelis ilmu, sanggar sastra,
observatorium, dan madrasah. Abudin Nata (2011) menjelas-
kannya sebagai berikut:
1. Al-hawânit al-warraqîn (toko buku). Kemajuan dalam
bidang ilmu pengetahuan tersebut mendorong lahir-
nya para pengarang, dan lahirnya para pengarang men-
dorong lahirnya industri perbukuan, dan industri per-
bukuan mendorong lahirnya toko-toko buku.
2. Manzilul ‘ulamâ (rumah para ulama). Di antara ru-
mah yang digunakan adalah rumah Ibnu Sina, setiap
malam murid-murid berkumpul di rumahnya untuk
membacakan kitab Asy-Syifa dan sebagian Al-Qanun.
Selain itu, rumah Muhammad bin Thahir bin Bahram
dan Sulaiman adalah rumah yang banyak dikunjungi
untuk mudzâkarah dan munâzharah. Sedangkan Imam
Ghazali menerima siswa di rumahnya setelah berhenti
dari madrasah Nizhamiyah.
3. Ash-shâlun al-adabiyah (sanggar sastra) mulai tumbuh
sederhana pada masa pemerintahan bani Umaiyyah,
kemudian berkembang pesat pada zaman Abasiyah. Ini
adalah perkembangan lebih lanjut dari perkumpulan
yang ada pada zaman khulafaurrasyidin. Hal ini sejalan
dengan kebiasaan khalifah pada zaman Islam yang bi-
asanya merencanakan program dalam urusan yang ber-
sifat duniawi, namun meminta fatwa dari segi agama.
36

