Page 7 - TT_TEKVAK_Natalia Rara_175090101111028
P. 7

muntah,  sakit  perut,  anoreksia,  dan  diare.  MERS-CoV  dapat  dideteksi  dalam  sekresi  saluran

               pernapasan,dimana sekresi dari trakea dan broncho-alveolar mengandung muatan virus yang lebih
               tinggi dibanding swab dari nasofaringal. Virus tersebut juga dapat dideteksi di tinja, serum, dan

               urin. Puncak ekskresi virus ini adalah 10 hari setelah timbulnya gejala. Selain itu, MERS-CoV
               juga diisolasi dari benda-benda di lingkungan, contohnya di dalam rumah sakit virus itu diisolasi

               dari  benda  seperti  seprai,  bedrails,  tempat  gantungan  infus,  dan  perangkat  sinar-X.  Studi  lain

               melaporkan bahwa MERS-CoV dapat bertahan hidup lebih lama dari dua hari pada suhu 20◦C dan
               kelembapan 40% (Chafekar & Burtram, 2017).

                           MERS-CoV menggunakan Dipeptidyl peptidase 4 (DPP4) sebagai reseptornya. Virus
               ini  hanya  dapat  menggunakan  reseptor  dari  spesies  tertentu  seperti  kelelawar,  manusia,  unta,

               kelinci,  dan  kuda  untuk  membuat  infeksi.  Sayangnya  bagi  para  peneliti,  virus  tidak  dapat

               menginfeksi  sel-sel  tikus  karena  perbedaan  dalam  struktur  DPP4,  sehingga  sulit  untuk
               mengevaluasi vaksin potensial atau antivirus (Fehr & Stanley, 2015).


               2.2 Karakeristik protein MERS-CoV

                           Sebagian besar virus corona termasuk MERS-CoV memiliki genome RNA yang besar
               sekitar 30kb dengan prediksi ada 10 ORF. ORF untuk struktrural protein terseusun sebagai 50-

               ORF1a / b-S-E-M-N-poli (A) -30, yang merupakan susunan yang serupa dengan virus corona lain

               dalam lineage C dari genus Betacoronavirus. Penelitian telah menargetkan gen-gen ini dan protein
               yang dikodekan untuk digunakan sebagai vaksin, atau untuk tujuan diagnostik atau terapeutik.

               Seperti CoV lain, MERS-CoV membawa gen yang mengkode protein aksesori (AP; 3, 4a, 4b, dan
               5),  yang  memusuhi  antagonis  terhadaop  antivirus  inang  (umumnyavrespons  interferon  tipe  I

               (IFN)) dan berkontribusi pada virulensi dan patogenesis. Menurut studi,  CoV APs tampaknya
               mengganggu jalur pensinyalan antivirus bawaan (Li dkk., 2018).

                           Protein  spike  MERS-CoV  adalah  glikoprotein  transmembrane  tipe  1  yang

               terekspresikan  pada  permukaan  envelop  virus.  Ptotein  ini  terdiri  dari  1353  asam  amino,
               terglikosilasi  dengan  kuat,  dan  memiliki  domain  ekstraseluler  yang  besar  serta  terminal

               sitoplasmik yang pendek. Protein S dibagi menjadi dua yaitu S1 dan S2, dimana memiliki efek

               yang penting dalam pengikatan, fusi, dan masuknya virus ke inang. Subunit S1 memiliki domain
               N-terminal (NTD) dan receptor-binding domain (RBD) dan terdiri dari 240 residu. RBD berisi

               subdomain internal dan eksternal. RBD bertanggung jawab atas pengikatan dipeptidyl peptidase
   2   3   4   5   6   7   8   9   10   11   12