Page 523 - Harry Potter and The Order Of The Phoenix
P. 523

'Cicit piutku selalu punya selera yang aneh dalam memilih tamu rumah.'


               'Kalau begitu, kemarilah,' Dumbledore berkata kepada Harry dan para Weasley.


               'Dan cepatlah, sebelum yang lain bergabung dengan kita.'


               Harry dan yang lainnya berkumpul di sekeliling meja tulis Dumbledore.

               'Kalian semua sudah pernah menggunakan Portkey sebelumnya?' tanya

               Dumbledore, dan mereka mengangguk, masing-masing menggapai untuk
               menyentuh sebagian ketel menghitam itu. 'Bagus. Pada hitungan ketiga, ... satu
               ... dua ...'


               Kejadiannya sepersekian detik: pada jeda yang sangat singkat sebelum
               Dumbledore berkata 'tiga', Harry melihat ke atas kepadanya -- mereka sangat
               dekat -- dan pandangan biru jernih Dumbledore berpindah dari Portkey ke wajah
               Harry.


               Seketika, bekas luka Harry terbakar panas sekali, seakan-akan luka lama yang
               telah terbuka lagi -- dan tanpa diperintah, tanpa diminta, tetapi dengan sangat
               kuat, di dalam diri Harry timbul kebencian yang sangat kuat, sehingga untuk
               sejenak, dia merasa dia tidak menginginkan apapun daripada menyerang --
               menggigit --


               membenamkan taring-taringnya ke dalam lelaki di hadapannya --


               '... tiga. '

               Harry merasakan sentakan kuat di balik pusarnya, tanah menghilang dari balik

               kakinya, tangannya terpancang pada ketel itu; dia terbentur yang lainnya ketika
               mereka semua mempercepat ke dalam pusaran warna dan deru angin, ketel itu
               menarik mereka maju ... sampai kakinya menghantam tanah, dan di suatu tempat
               yang dekat sebuah suara berkata:


               'Balik lagi, anak bandel darah-pengkhianat. Benarkan ayah mereka sekarat?'


               'KELUAR!' raung suara kedua.

               Harry berjuang berdiri dan melihat sekeliling; mereka telah tiba di dapur bawah
               tanah yang suram di nomor dua belas, Grimmauld Place. Satu-satunya sumber

               cahaya adalah api dan sebuah lilin yang bergoyang-goyang, yang menerangi
   518   519   520   521   522   523   524   525   526   527   528