Page 897 - Harry Potter and The Order Of The Phoenix
P. 897

-- BAB TIGA PULUH TUJUH --


                                                 Ramalan yang Hilang


               Kaki Harry mengenai tanah padat; lututnya melengkung sedikit dan kepala
               penyihir pria keemasan itu jatuh dengan bunyi bergema ke atas lantai. Dia
               memandang berkeliling dan melihat bahwa dia telah tiba di kantor Dumbledore.


               Semuanya tampaknya telah memperbaiki diri sendiri selama ketidakhadiran
               Kepala Sekolah. Instrumen-instrumen perak yang halus itu berada sekali lagi di
               atas meja-meja berkaki kurus panjang, mengeluarkan asap dan menderu tenang.
               Potret-potret para kepala sekolah sedang tidur di bingkai mereka, kepala mereka
               tersandar ke belakang ke kursi berlengan atau terhadap tepi lukisan. Harry
               memandang melalui jendela. Ada garis hijau pucat yang mengagumkan di
               sepanjang cakrawala: fajar sedang menyingsing.


               Keheningan dan ketiadaan gerakan, hanya dipecahkan sekali-kali oleh dengkur
               atau dengus terkadang potret yang sedang tidur, tidak mampu ditanggungnya.
               Kalau sekitarnya bisa mencerminkan perasaan di dalam dirinya, lukisan-lukisan
               itu akan menjerit kesakitan. Dia berjalan berkeliling kantor tenang dan indah itu,

               sambil bernapas dengan cepat, mencoba tidak berpikir. Tetapi dia harus berpikir
               ... tidak ada jalan keluar ...

               Salahnya Sirius mati; semuanya salahnya. Kalau dia, Harry, tidak cukup bodoh

               untuk jatuh pada tipuan Voldemort, kalau dia tidak begitu yakin bahwa apa yang
               telah dilihatnya dalam mimpinya nyata, kalau saja dia membuka pikirannya pada
               kemungkinan bahwa Voldemort, seperti yang dikatakan Hermione, sedang
               bertumpu pada kesukaan Harry berperan jadi pahlawan ...


               Tak tertahankan, dia tidak akan memikirkannya, dia tidak bisa menerimanya ...
               ada kehampaan mengerikan di dalam dirinya yang tidak ingin dirasakan atau
               diperiksanya, suatu lubang gelap tempat Sirius dulu berada, tempat Sirius
               menghilang; dia tidak ingin harus berada sendirian di ruang besar yang hening
               itu, dia tidak bisa menerimanya --


               Sebuah lukisan di belakangnya mendengkur keras, dan sebuah suara tenang
               berkata, 'Ah ... Harry Potter ...'


               Phineas Nigellus menguap panjang, sambil merentangkan lengannya selagi dia
               mengamati Harry lewat matanya yang sipit dan licik.
   892   893   894   895   896   897   898   899   900   901   902