Page 900 - Harry Potter and The Order Of The Phoenix
P. 900
'Aku tahu bagaimana perasaanmu, Harry,' kata Dumbledore dengan sangat
pelan.
'Tidak, Anda tidak tahu,' kata Harry, dan suaranya mendadak keras dan kuat;
amarah membara memuncak dalam dirinya; Dumbledore tidak tahu apa-apa
tentang perasaannya.
'Kau lihat, Dumbledore?' kata Phineas Nigellus dengan licik. 'Jangan pernah
mencoba mengerti para murid. Mereka membencinya. Mereka jauh lebih suka
disalah mengerti dengan tragis, berkubang dalam mengasihani diri sendiri,
bersusah hati dalam --'
'Itu cukup, Phineas,' kata Dumbledore.
Harry memalingkan punggungnya kepada Dumbledore dan memandang penuh
tekad keluar jendela. Dia bisa melihat stadium Quidditch di kejauhan. Sirius
pernah muncul di sana sekali, menyamar sebagai anjing hitam lusuh, sehingga
dia bisa menonton Harry bermain ... dia mungkin datang untuk melihat apakah
Harry sebagus James dulu ... Harry tak pernah bertanya kepadany ...
'Tak usah malu atas apa yang sedang kamu rasakan, Harry,' kata suara
Dumbledore.
'Sebaliknya ... kenyataan bahwa kamu bisa merasakan sakit seperti ini adalah
kekuatanmu yang terbesar.'
Harry merasakan amarah membara itu menjilat isi tubuhnya, menyala dalam
kehampaan mengerikan, mengisinya dengan hasrat untuk melukai Dumbledore
karena ketenangannya dan kata-kata kosongnya.
'Kekuatanku yang terbesar, begitu?' kata Harry, suaranya bergetar selagi dia
menatap keluar ke stadium Quidditch, tak lagi melihatnya. 'Anda tidak punya
gambaran ... Anda tidak tahu ...'
'Apa yang tidak kutahu?' tanya Dumbledore tenang.
Itu sudah terlalu berlebihan. Harry berpaling, gemetaran karena marah.
'Aku tidak mau membicarakan bagaimana perasaanku, oke?'
'Harry, penderitaan seperti ini membuktikan kamu masih manusia! Rasa sakit ini
bagian dari menjadi manusia --'

