Page 898 - Harry Potter and The Order Of The Phoenix
P. 898

mengamati Harry lewat matanya yang sipit dan licik.


               'Dan apa yang membawamu ke sini pagi-pagi begini?' kata Phineas akhirnya.

               'Kantor ini seharusnya terlarang untuk semua orang kecuali Kepala Sekolah yang
               berhak. Atau apakah Dumbledore mengirimmu ke sini? Oh, jangan bilang

               padaku ...'

               Dia menguap lebar menggetarkan lagi. 'Pesan lain untuk cucu buyutku yang

               tidak berharga?'

               Harry tidak bisa berbicara. Phineas Nigellus tidak tahu bahwa Sirius sudah mati,
               tetapi Harry tidak bisa memberitahunya. Mengatakannya keras-keras akan

               membuatnya final, mutlak, tak bisa ditebus lagi.

               Beberapa potret lagi telah bergerak sekarang. Ketakutan diinterogasi membuat
               Harry berjalan menyeberangi ruangan dan meraih kenop pintu.


               Kenop itu tidak mau berputar. Dia terkunci.


               'Kuharap ini berarti,' kata penyihir pria gemuk berhidung merah yang tergantung
               di dinding di belakang meja tulis Kepala Sekolah, 'bahwa Dumbledore akan
               segera kembali di antara kita?'


               Harry berpaling. Penyihir pria itu sedang mengamatinya dengan penuh minat.


               Harry mengangguk. Dia menarik kenop pintu di belakang punggungnya lagi,
               tetapi tetap tak bisa digerakkan.


               'Oh bagus,' kata penyihir itu. 'Sangat membosankan tanpa dia, benar-benar
               sangat membosankan.'


               Dia duduk di atas kursi mirip tahta tempat dia dilukis dan tersenyum ramah
               kepada Harry.


               'Dumbledore sangat memujimu, seperti yang kuyakin kau ketahui,' dia berkata
               dengan senang. 'Oh ya. Sangat menghargaimu.'


               Rasa bersalah mengisi seluruh dada Harry seperti parasit besar yang berat, yang
               sekarang menggeliat-geliut. Harry tidak bisa menerima ini, dia tidak tahan lagi
               menjadi dirinya sendiri ... dia belum pernah merasa terperangkap di dalam
               kepala dan tubuhnya sendiri, tak pernah berharap begitu dalamnya bahwa dia
   893   894   895   896   897   898   899   900   901   902   903