Page 125 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 125

Keping 52


             Jawaban Paul yang buram dan terbata mengonfirmasi
           dugaannya. Gio mengendus hubungan yang kompleks.

           Sesuatu yang familier baginya. “Jadi, kamu cuma minta aku
           menemuinya? Itu saja?”
             “Kamu peka dan perseptif, Gio. You can read between the
           lines. I trust your judgement.”
             “Kamu terlalu tinggi menilaiku, Paul. I’m as thick as the next

           guy.”
             “You’re anything but thick. I would trust you with my life.
           Remember Patagonia?”
             “Sudahlah, Paul. Itu bukan apa-apa. You would do the same
           for me,”  balas Gio.  “Oke. Aku akan temui dia. Kirim saja
           alamatnya.”
             “I owe you one. Again.”
             “You owe me none.”

             Tak lama setelah pembicaraan mereka usai, sebuah teks
           singkat masuk ke ponsel Gio. Tertera nama “Zarah Amala”
           diikuti alamat komplet yang mencantumkan nama kampung,
           RT/RW, dan kode pos, macam alamat yang ditulis untuk
           keperluan sensus.

             “Pak,” Gio menepuk bahu sopir taksi, “bisa mampir ke toko
           di depan sebentar? Saya perlu beli air minum.”
             Taksi itu lalu keluar dari antrean kemacetan dan menepi.
           Gio bergegas masuk ke sebuah toko swalayan kecil. Kepalanya
           pening sejak telepon Paul tadi. Gio menduga sumbernya
           adalah kopi pekat suguhan Reuben yang kurang bersahabat



           110
   120   121   122   123   124   125   126   127   128   129   130