Page 120 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 120
IntelIgensI embun PagI
pertama mendarat di Indonesia. Zarah menyimpan kalimat
itu khusus bagi ibunya.
Aisyah menahan diri untuk diam dan kembali hanya
memperhatikan Zarah. Merasakan apa yang tidak terucap.
Pernyataan Zarah kali ini tidak mengandung dendam.
“Kamu nggak benci Ibu lagi?”
Pertanyaan ibunya begitu polos hingga sejenak
membuat Zarah gagu. Sekelumit pengalamannya menjadi
guru mengajarkan Zarah bahwa pertanyaan polos adalah
pertanyaan yang paling sukar dijawab. Ia ingin bilang bahwa ia
tidak pernah membenci ibunya, tapi Zarah enggan berdusta.
Pada satu masa dalam hidupnya, Aisyah adalah musuh nomor
satunya. “Sudah nggak, Bu.”
Selengkung senyum terbit di wajah Aisyah. “Carilah, Nak.
Cari bukan untuk sampai ketemu. Cari sampai kamu merasa
sudah tidak perlu lagi mencari. Maaf, Ibu nggak bisa bantu
kamu. Tapi, kalau buatmu itu penting, Ibu ikhlas.”
Hening lama mengambil alih hingga akhirnya pecah oleh
bunyi berdencing anak kunci yang beradu. Zarah memasukkan
pemberian ibunya ke tas kain yang ia sampirkan di bahu.
Ransel besarnya saat ini barangkali sudah tersimpan rapi di
salah satu kamar di rumah Pak Ridwan.
“Besok saja Zarah nengok rumah. Kita pulang saja, Bu.”
“Ibu harus kembalikan sepeda dulu ke rumah Abah.”
“Sini. Zarah yang bonceng.”
“Memangnya kamu kuat?”
105

