Page 121 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 121

Keping 52


             Zarah tertawa ringan. Andai saja ibunya tahu medan yang
           harus ia tempuh setiap kali bekerja, dari mulai membabat

           hutan sampai kabur  dari singa. Dibanding itu semua,
           bersepeda sambil membonceng satu orang selama setengah
           jam lebih cocok masuk ke kategori relaksasi. “Kalau Zarah
           capek, gantian Ibu yang bonceng Zarah, ya,” selorohnya.
             Sepeda kumbang itu meluncur di jalan perkampungan

           menuju pinggir Kota Bogor. Aisyah memeluk pinggang
           Zarah. Setelah bertahun-tahun, berboncengan di sepeda tua
           pada sore itu merupakan kontak fisik mereka yang terdekat
           dan terlama. Keduanya tak berbicara. Hanya bertukar panas
           tubuh. Sepanjang ingatan Aisyah, itulah momen terindahnya
           dengan Zarah.







           Gio mengempaskan tubuh ke jok taksi yang menjemputnya
           dari rumah Dimas. Saat pamit tadi, mereka berjanji saling
           mengabari jika ada perkembangan yang berarti.
             Tak lama setelah keluar dari daerah perumahan, taksi

           yang ditumpanginya langsung mandek kena arus macet jalan
           raya. Gio menekuri kepadatan Jakarta dengan pikiran yang
           sibuk mencari. Belum ada petunjuk apa-apa tentang Infiltran
           berikut. Gio berharap ia tak perlu berlama-lama di Jakarta.
           Enggan rasanya membayangkan bahwa kunjungannya kali ini
           bisa saja tak berujung.



           106
   116   117   118   119   120   121   122   123   124   125   126