Page 135 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 135
Keping 53
“Benda kayak apa, Bu?”
Sati mengedikkan bahu. “Jimat? Mungkin berupa batu,
perhiasan? Tulisan isi mantra?”
“Nggak ada. Saya nggak pakai yang begitu-begitu.”
“Apa itu yang di lehermu?”
Refleks, Bodhi menggenggam dua liontin berbentuk tabung
yang bergantung di kerah kausnya. “Cuma kalung biasa, Bu.”
“Sikapmu menunjukkan sebaliknya, Bodhi. Jujur saja sama
saya. Itu bukan benda biasa.”
“Ini abu dua guru saya.”
“Guru?”
Bodhi memegang tabung yang kanan. “Penjaga wihara
yang membesarkan saya.” Jarinya pindah ke tabung yang kiri.
“Guru tato saya.”
“Salah satu dari mereka pernah kasih sesuatu sama kamu?
Yang kamu simpan dan bawa ke mana-mana?”
Tangan Bodhi tidak berpindah dari kalungnya. “Cuma ini.
Dan, mereka nggak ngasih. Saya yang ambil sendiri.” Dari
tatapan tajam Sati yang penuh selidik, Bodhi ragu ucapannya
dipercaya.
Sebentar kemudian, senyum ramah kembali hadir di wajah
Sati. “Kamu makan dulu. Nanti kamu bisa tidur di ruang tamu.
Saya siapkan senyaman mungkin.”
Bodhi memandangi punggung Sati yang menjauh. “Bu
Sati….”
Langkah Sati terhenti. “Ya?”
120

