Page 138 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 138

IntelIgensI embun PagI

              “Nggak, Mas. Aku memang nggak bilang bakal mampir.”
              Reuben membuka pintu lebar-lebar, mempersilakan Toni

           masuk. “Dimas! Ada si Toni!” serunya.
              Dimas melempar buku bacaannya dan bangkit dari sofa.
           “Toni Bandung?” serunya. Pertanyaannya terjawab begitu ia
           membalikkan badan. “Ton, memangnya kamu lagi di Jakarta?
           Kok, nggak telepon dulu?”

              “Ada yang harus kubicarakan dan nggak bisa lewat telepon.
           Boleh bicara berdua sebentar?”
              “Soal Supernova?” Dimas yakin itu satu-satunya alasan
           kehadiran  Toni.  “Kamu bisa bicara di depan Reuben.  No
           problem. Malah lebih baik kalau Reuben ikut tahu.”
              Kata hati atau bukan, gimana nanti. Toni tak punya waktu
           menganalisis.  “Aku nggak bisa menjebol Supernova, Mas,”
           ucapnya.

              “Masa, sih? Sesusah itu?”
              “Bukan karena susah, tapi karena nggak perlu,” jawab Toni
           lirih. “Aku yang bikin firewall-nya. Supernova itu klienku.”




















                                                                 123
   133   134   135   136   137   138   139   140   141   142   143