Page 249 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 249
Keping 62
“Ya, kayak aku jadi babysitter Reuben,” sahut Dimas.
“Itu bukan rahasia, Dimas,” celetuk Reuben. Ia pun
menjabat tangan Gio. “Aku yakin ini bukan pertemuan kita
yang terakhir. Kita belum tuntas ngobrol soal DMT.”
“Ah, ya.” Gio manggut-manggut. “Kita harus ketemu lagi
khusus untuk itu. Dan, untuk kopimu.”
“Perpustakaan kami punya banyak referensi tentang
molekul spirit dan sejenisnya. Kita bisa diskusi semalam suntuk.
Kamu juga bisa nginap di rumah kami kapan pun kamu mau.
Dan, tenang saja, kamu aman. Kami bukan predator seksual
biarpun semua gay di kota ini bakal ngiler lihat kamu. Kata
Dimas, nama kamu bahkan sangat seksi, seperti salesman alat
pembesar penis.”
“Reuben!” Dimas menyentak.
“It’s just a joke. Kamu waktu itu cuma bercanda, ya kan,
Dimas?” sahut Reuben.
“Reuben. Kamu benar-benar nggak lucu.”
“Guys. Itu lucu, kok,” kata Gio hati-hati, “tenang saja, aku
nggak tersinggung.”
“Karena itulah, mereka famili favoritku,” ujar Toni dengan
cengiran lebar.
Mereka mengiringi Gio ke mobil jemputannya yang sudah
menunggu di pelataran. Rombongan kecil itu pun terurai.
Gio keluar dari gedung kantor Re dan langsung disambut lalu
lintas yang merayap.
Baru kali itu Gio tidak keberatan terjebak kemacetan
Jakarta. Memanfaatkan waktu panjang di perjalanan kembali
234

