Page 340 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 340

IntelIgensI embun PagI

              “Halo? Watti?”

              “Tumben telepon jam segini,  Tra. Sehat kamu?” Kalau
           bukan karena sakit keras atau bokek berat, Watti tidak terpikir
           alasan lain mengapa adiknya menelepon sebelum pukul
           sembilan malam pada hari biasa, apalagi mengingat setidaknya

           sembilan puluh persen percakapan mereka merupakan inisiatif
           Watti.
              “Wat, saya nggak takut mati.”
              “Sekarat kamu, Tra? Sakit keras? Ini di mana? ICU?”
              “Pasien ICU nggak bisa nelepon kali, Wat. Saya di rumah.”
           Elektra berdecak.  “Wat, kemarin saya ketemu Mami sama

           Dedi.”
              Mulut Watti terbuka tambah lebar. “Astagfirullah. Kalau
           sudah lihat yang begitu katanya memang sudah nggak lama
           lagi, Tra. Rumah di Bandung gimana atuh? Kita jual saja?”

              “Saya sehat, Wat!” Elektra mulai menyesali keputusannya
           menelepon  Watti.  “Saya kemarin dihipnotis.  Terus, saya
           ketemu Dedi sama Mami. Mereka bawa saya ke surga, Wat.”
              “Uang kamu nggak hilang, kan? Dompet masih utuh?”
              “Uang? Maksudnya?”

              “Kan, sekarang banyak kejahatan hipnotis, Tra. Makanya
           kamu jangan suka melamun. Kebiasaan jelek ah, dari dulu.
           Orang jahat jadi gampang memanfaatkan kamu.”
              “Bukan hipnotis kayak gitu. Ini, mah, beneran.

           Hipnotis—profesional.” Ternyata tidak mudah bagi Elektra



                                                                 325
   335   336   337   338   339   340   341   342   343   344   345