Page 343 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 343

Keping 69


           Sepanjang perjalanannya dengan mata tertutup, Zarah

           berusaha merekam dan menganalisis. Jalanan yang berkelok-
           kelok, menanjak dan menurun seperti rute ke luar kota. Bunyi
           lalu lintas yang semarak. Zarah menaksir waktu tempuh sekitar
           satu jam sebelum akhirnya mobil itu mengambil belokan tajam

           ke kiri.
             Jalanan yang tadinya mulus berubah drastis. Laju mobil kini
           dihambat oleh lubang-lubang dan polisi tidur. Lebih kurang
           sepuluh menit kemudian, mobil itu kembali membelok tajam.
           Mesin mobil dipadamkan.
             “Bangun, Zarah.” Nada Togu terdengar ceria.

             Kelopak mata Zarah perlahan membuka, beradaptasi
           dengan terangnya langit. Mobil yang ditumpanginya berhenti
           di pelataran sebuah vila besar. Jajaran cemara pensil menjulang
           tinggi di kiri-kanan.

             Begitu pintu mobil terbuka, Zarah merasakan kembalinya
           koneksi antara ia dan tubuhnya. Ia beringsut keluar, kali ini
           dengan kesadarannya sendiri. Tubuhnya kaku karena hampir
           tidak bergerak selama sekian lama. Kor tonggeret, kicau
           burung, dan udara sejuk khas pegunungan menyambutnya.

             “Di mana ini? Puncak?”
             Togu tidak menjawab, hanya tangannya membuka untuk
           mempersilakan Zarah berjalan duluan, naik ke teras depan vila
           yang berlapis marmer. “Kau sudah tahu tak ada gunanya kabur,

           kan?” Togu mengiringinya dengan entakan tajam sol pantofel.



           328
   338   339   340   341   342   343   344   345   346   347   348