Page 38 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 38

IntelIgensI embun PagI

              Tangan Gio terulur, menggapai. Perempuan itu menyambut.
              Lelehan air mata mengaliri pipi Gio tanpa terkendali. Ada

           keakraban mendalam yang mewujud menjadi luapan perasaan
           rindu. Ada kelelahan luar biasa yang tak pernah ia tahu ada
           dan diangkat sekaligus dari sistemnya. Gio merasa seperti
           anak yang pulang ke rumah setelah perjalanan teramat jauh.
              Ketika  tangan mereka  bersentuhan, ikatan kumpulan

           renik itu melonggar, pecah terurai, bergerak merambatinya,
           menyerbu masuk ke tubuhnya seperti invasi serangga pemakan
           daging. Napas Gio memburu.  Tubuhnya mulai mengurai.
           Terpecah belah menjadi kepingan renik. Gio kehilangan batas
           fisiknya. Ia melihat sekeliling dan menyadari bahwa ia mulai
           membaur bersama lingkungannya. Persis seperti wujud Madre
           Aya. Tak hanya melihat, Gio merasakan fisiknya melenyap.
           Tidak ada lagi rasa berat dan solid. Mengawang bagai molekul

           udara. Dalam panik, sebuah pertanyaan terselip di benaknya.
           Kalau diriku sudah tidak ada, kenapa aku masih bisa berpikir?
           Kenapa aku masih merasa ada? Kenapa aku masih bisa bertanya?
              Begitu pertanyaan itu terlontar, serentetan jawaban
           langsung datang menggenapi. Bukan berupa suara atau bahasa,

           melainkan hantaman balok-balok pemahaman. Gio tersadar,
           kumpulan renik tadi sesungguhnya adalah informasi. Aliran
           informasi kini membanjirinya. Menggenapinya.









                                                                  23
   33   34   35   36   37   38   39   40   41   42   43