Page 41 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 41

Keping 46


                       7
             “Déjalo ir,  Chaska,” bisik Luca. “Dia memang belum siap.
           Sayangnya, dia juga tidak punya pilihan lain.”







           Bersandar pada badan mobil, Gio gelisah memandang gelap
           malam. Sibuk dengan kecamuk dalam pikirannya sendiri,
           dinginnya udara di dataran tinggi dua ribuan meter di atas
           kaki laut tidak menggetarkannya.
             Luca berjalan mendekat, lalu berdiri di sebelah Gio.
             Tanpa perlu dipancing, kalimat demi kalimat pun meluncur.

           “Aku bukan siapa-siapa. Bukan manusia super. Bukan orang
           suci. Bagaimana mungkin tugas seperti itu jatuh ke tanganku?
           Aku tidak mungkin sanggup, Luca.”
             “Pernyataan klasik tahanan amnesia,” sahut Luca datar.
             “Aku kehilangan seseorang. Tidak ada perpisahan. Tidak
           ada jasad. Berbulan-bulan aku mencari, bolak-balik berharap,
           putus asa. Sangat menyiksa. Kalau informasi dari Madre Aya
           benar….”
             “Tidak ada ‘kalau’. It was the truth. Your truth,” potong Luca.
           “Apa rasanya ketika  Madre Aya menunjukkan siapa dirimu

           yang sebenarnya? Perasaan itu nggak ada bandingannya, kan?
           Tapi, begitu kamu balik ke penjaramu, kamu kembali ragu,
           kerdil, merasa masalah pribadimulah yang paling besar di
           dunia ini. I tell you what, it’s nothing. Nothing is more important
           than this mission. So, man up and complete your task.”
           7   Biarkan saja (bahasa Spanyol).


           26
   36   37   38   39   40   41   42   43   44   45   46